27 total views
INNNEWS – Jumlah korban tewas akibat gempa bumi kuat yang mengguncang Prefektur Kumamoto di barat daya Jepang pada Selasa (28/7/2026) naik menjadi 34 orang per Jumat (31/7/2026). Enam orang lainnya mengalami luka serius.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA) atau 6,8 menurut United States Geological Survey (USGS) terjadi pukul 16.27 waktu setempat (14.27 WIB). Pusat gempa berada di dekat Kota Uki, sekitar 20 km selatan Kota Kumamoto di Pulau Kyushu, dengan kedalaman sekitar 10 km. Intensitas guncangan mencapai skala 7 (maksimum) pada skala seismik Jepang di beberapa wilayah, termasuk Kota Uki dan Hikawa.
Kerusakan dan Insiden Besar
Hampir separuh korban tewas terkait dua insiden utama: kerusakan struktural parah di pabrik kertas Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro (termasuk runtuhnya cerobong), serta ledakan yang diduga akibat kebocoran gas di mal Aeon di Kota Kashima. Tim penyelamat masih melakukan pencarian di lokasi-lokasi tersebut.
Gempa juga menyebabkan kerusakan jalan, jembatan, bangunan, serta pemadaman listrik yang awalnya berdampak pada sekitar 40.000–48.000 rumah tangga. Ribuan orang kehilangan akses air bersih. Ribuan warga mengungsi di ratusan pusat evakuasi. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan untuk Laut Ariake dan Laut Yatsushiro, namun dicabut dalam waktu singkat.
Tantangan Cuaca Panas
Survivors kini menghadapi ancaman tambahan berupa cuaca panas ekstrem musim panas, dengan suhu yang diperkirakan mencapai 39°C. Banyak rumah tangga masih tanpa listrik dan air mengalir, meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke. Pasukan Bela Diri Jepang (Self-Defense Force) telah memasang sekitar 300 unit pendingin udara di pusat-pusat pengungsian.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya menekankan bahwa operasi penyelamatan merupakan “perlombaan melawan waktu”. Ia meminta warga tetap waspada terhadap gempa susulan kuat dalam beberapa hari ke depan.
Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Prefektur Kumamoto sendiri pernah dilanda gempa besar pada 2016 yang menewaskan 275 orang. Hingga kini, pemerintah Jepang terus mengerahkan sumber daya untuk evakuasi, pencarian, dan pemulihan infrastruktur.


