21 total views
INNNEWS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi internasional setelah mengunggah peta yang menyebut Selat Hormuz sebagai “wilayah baru AS” di akun Truth Social miliknya, Rabu (19/8/2026).
Trump menyertakan peta kawasan strategis itu dengan label “New US Territory” sambil menegaskan ancamannya terkait kedaulatan atas jalur perairan vital tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan ini setiap hari.
Reaksi Iran datang cepat dan keras. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengecam pernyataan Trump dan menyebutnya sebagai “khayalan”.
“Sama seperti Trump yang menyebut Teluk Persia dengan nama yang tepat, khayalannya tentang Selat Hormuz akan segera dihilangkan, atau kami yang akan meluruskan orang delusional ini,”
Pernyataan Trump ini muncul di tengah ketegangan yang masih tinggi antara Washington dan Teheran terkait blokade laut, sanksi ekonomi, serta status Selat Hormuz. Sebelumnya, kedua negara sempat terlibat ketegangan militer yang membuat jalur pelayaran di kawasan tersebut sempat terganggu.
Analis geopolitik menilai unggahan Trump lebih bersifat retorika politik dalam negeri AS ketimbang langkah hukum internasional yang serius. Menurut hukum laut internasional (UNCLOS), Selat Hormuz merupakan perairan internasional yang dilindungi hak lintas damai.


