52 total views
INNNEWS — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan dan semakin mendekati, bahkan sempat menembus, level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Perdagangan Senin (28/9/2026) mencatat rupiah ditutup di kisaran Rp 17.978 per dolar AS (melemah sekitar 0,42 persen), sementara pada Selasa (29/9/2026) kurs spot sempat bergerak di atas Rp 18.000, termasuk menyentuh sekitar Rp 18.019.
Tekanan ini terjadi di tengah kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan indeks dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang mendekati atau melampaui level 5,2 persen, serta lonjakan harga minyak mentah dunia di atas US$ 108 per barel menjadi pendorong utama.
Situasi geopolitik, termasuk ketidakpastian terkait Selat Hormuz, turut memperberat sentimen. Di dalam negeri, tingginya permintaan valuta asing dari importir menjelang akhir kuartal III serta arus keluar dana asing dari aset emerging markets menambah tekanan jual terhadap rupiah.
Respons Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan jajaran BI merespons pelemahan ini dengan menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam kesempatan sebelumnya, Destry menjelaskan bahwa BI telah mengurangi porsi intervensi langsung di pasar spot menjadi sekitar 30 persen dari total upaya stabilisasi.
Intervensi melalui spot dinilai lebih mahal, sehingga bank sentral mengoptimalkan instrumen lain yang lebih efisien, terutama transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
“Kita sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal. Intervensi yang mahal itu adalah melalui spot, sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi yang kami lakukan,” ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea turut menjelaskan penyebab pelemahan terbaru. Menurutnya, tekanan dipengaruhi oleh kekhawatiran atas inflasi global dan risiko fiskal seiring kenaikan harga minyak, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut, kebutuhan valas importir, serta outflow dana portofolio.
BI menegaskan akan terus hadir di pasar melalui kombinasi instrumen NDF, spot, DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur dan berkesinambungan untuk menjaga mekanisme pasar dan stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya.
Proyeksi dan Dampak
Sejumlah analis memperkirakan rupiah masih berpotensi menguji atau bergerak di sekitar level Rp 18.000–Rp 18.200 dalam jangka pendek, bergantung pada pergerakan dolar AS, harga minyak, dan data ekonomi AS. Level Rp 18.000 dianggap lebih sebagai angka psikologis yang sedang diuji, bukan sinyal pelemahan yang tidak terkendali. Cadangan devisa dan bauran kebijakan moneter-makroprudensial BI tetap menjadi penopang stabilitas.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau tetap berhati-hati dalam mengelola eksposur valas, sementara BI menekankan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


