HomeGlobalDinamika Iran-Israel di Timur Tengah: Dulu Sekutu Strategis 

Dinamika Iran-Israel di Timur Tengah: Dulu Sekutu Strategis 

Published on

spot_img

 3,090 total views

INN INTERNASIONAL – Hubungan antara Iran dan Israel merupakan salah satu dinamika paling kompleks di Timur Tengah.

Dulunya, kedua negara ini menjalin hubungan yang erat, bahkan dianggap sebagai sekutu strategis. Namun, perubahan politik dan ideologi telah mengubah persahabatan ini menjadi permusuhan yang berkepanjangan.

Berikut sejarah hubungan kedua negara, faktor-faktor yang menyebabkan konflik, serta mempertimbangkan apakah ada kemungkinan rekonsiliasi di masa depan.

Persahabatan di Era Pahlavi (1947–1979)

Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran dan Israel memiliki hubungan yang relatif harmonis. Iran, yang saat itu diperintah oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi dari dinasti Pahlavi, adalah monarki sekuler dan sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah.

Meskipun Iran menentang Rencana Pemisahan PBB untuk Palestina pada 1947, Iran menjadi negara mayoritas Muslim kedua setelah Turki yang mengakui kedaulatan Israel pada 1948.

Persahabatan ini didorong oleh kepentingan geopolitik bersama. Israel, yang menghadapi penolakan dari negara-negara Arab tetangganya, melihat Iran sebagai mitra strategis untuk menyeimbangkan kekuatan regional.

David Ben-Gurion, pendiri dan perdana menteri pertama Israel, secara aktif menjalin hubungan dengan Iran untuk mengimbangi ancaman dari negara-negara seperti Irak dan Mesir.

Di sisi lain, Iran di bawah Shah membutuhkan dukungan teknologi dan militer dari Israel, serta hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Salah satu contoh kerja sama adalah proyek pipa minyak Eilat-Ashkelon, yang memungkinkan Iran mengekspor minyak ke Eropa melalui wilayah Israel.

Selama periode ini, kedua negara juga terlibat dalam kerja sama intelijen dan militer. Iran bahkan menjadi salah satu pemasok minyak utama Israel, dan Israel membantu Iran dalam pengembangan teknologi pertanian dan infrastruktur.

Baca juga: 

Netanyahu Warning Keras: Jika Israel Runtuh, Dunia Akan Terguncang

Hubungan ini semakin diperkuat oleh musuh bersama mereka, yaitu negara-negara Arab yang didukung oleh Uni Soviet selama Perang Dingin.

Revolusi Islam 1979: Titik Balik Permusuhan

Hubungan Iran-Israel berubah drastis setelah Revolusi Islam 1979, yang menggulingkan Shah dan mendirikan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Khomeini memperkenalkan ideologi anti-imperialisme yang menolak pengaruh Barat, khususnya Amerika Serikat (disebut “Setan Besar”) dan Israel (disebut “Setan Kecil”).

Iran memutuskan semua hubungan diplomatik dengan Israel, mengubah kedutaan Israel di Teheran menjadi kedutaan Palestina, dan mendeklarasikan Hari Al-Quds untuk mendukung perjuangan Palestina setiap Jumat terakhir bulan Ramadan.

Sejak saat itu, Iran mengambil sikap keras terhadap Israel, menolak legitimasi negara tersebut dan mendukung kelompok-kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

Di sisi lain, Israel mulai memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama setelah Iran mengembangkan program nuklirnya pada 2000-an. Konflik kedua negara berpindah ke “perang bayangan,” yang ditandai dengan serangan siber, sabotase, pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, dan serangan terhadap aset masing-masing tanpa pengakuan resmi.

Eskalasi permusuhan semakin meningkat pada 1990-an setelah Perang Teluk Pertama, ketika Israel mengadopsi sikap yang lebih agresif terhadap Iran, khususnya terkait program nuklirnya.

Iran, yang merasa terisolasi di kawasan mayoritas Arab dan Sunni, menggunakan retorika anti-Israel untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin dunia Syiah dan memperluas pengaruhnya melalui proksi seperti Hizbullah.

Konflik memuncak pada 2024 dengan serangan langsung, seperti serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus pada April 2024 dan serangan rudal balistik Iran ke Israel pada Oktober 2024, menandai perubahan dari perang bayangan ke konfrontasi terbuka.

Faktor-Faktor Penyebab Konflik Berkepanjangan

Beberapa faktor utama telah mempertahankan permusuhan antara Iran dan Israel:

Perbedaan Ideologi

Republik Islam Iran dibangun atas prinsip anti-Zionisme, sementara Israel memandang Iran sebagai ancaman terhadap keberadaannya, terutama karena dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan anti-Israel.

Program Nuklir Iran

Israel menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial dan telah melakukan berbagai upaya, termasuk sabotase dan serangan udara, untuk menghentikannya.

Iran, di sisi lain, melihat program nuklirnya sebagai hak kedaulatan dan alat diplomasi.

Persaingan Regional

Iran dan Israel bersaing untuk mendominasi pengaruh di Timur Tengah. Iran mendukung “Poros Perlawanan” (Hizbullah, Hamas, Houthi), sementara Israel menjalin aliansi dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan UEA melalui Perjanjian Abraham

Keterlibatan Pihak Eksternal

Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel dan Rusia serta Tiongkok yang memiliki hubungan dengan Iran memperumit dinamika konflik.

Potensi Rekonsiliasi: Mungkinkah Kembali Bersahabat?

Mengingat sejarah panjang permusuhan dan eskalasi terbaru, rekonsiliasi antara Iran dan Israel dalam waktu dekat tampak sangat sulit, tetapi bukan tidak mungkin dalam jangka panjang.

Berikut adalah analisis faktor-faktor yang dapat mendukung atau menghambat rekonsiliasi:

Faktor Pendukung Rekonsiliasi

Pragmatisme Politik: Sejarah menunjukkan bahwa Iran dan Israel pernah bekerja sama ketika kepentingan mereka selaras, seperti selama skandal Iran-Contra (1980-an), ketika Israel memfasilitasi pengiriman senjata AS ke Iran untuk melawan Irak.

Kepentingan bersama, seperti stabilitas regional atau ancaman bersama (misalnya, kelompok ekstremis Sunni), bisa mendorong kerja sama tidak langsung.

Perubahan Kepemimpinan: Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, yang dilantik pada 2024, dikenal sebagai reformis yang lebih moderat dibandingkan pendahulunya.

Jika Iran mengadopsi kebijakan luar negeri yang lebih pragmatis, ini bisa membuka ruang untuk dialog. Di Israel, perubahan politik pasca-Netanyahu juga dapat memengaruhi sikap terhadap Iran.

Diplomasi Multilateral: Upaya diplomasi melalui PBB atau mediator netral seperti Oman atau Swiss telah menunjukkan hasil di masa lalu, seperti dalam negosiasi perjanjian nuklir JCPOA 2015.

Rekonsiliasi Arab Saudi-Iran pada 2023, yang difasilitasi Tiongkok, juga menunjukkan bahwa diplomasi dapat mengatasi permusuhan lama.

Keinginan Stabilitas Ekonomi: Konflik berkepanjangan telah membebani ekonomi kedua negara, terutama Iran yang menghadapi sanksi internasional.

Stabilitas regional dapat menguntungkan perdagangan dan investasi, mendorong kedua pihak untuk mencari solusi damai.

Faktor Penghambat Rekonsiliasi

Krisis Kepercayaan: Setelah bertahun-tahun terlibat dalam perang bayangan dan serangan langsung, kepercayaan antara kedua negara hampir tidak ada. Tindakan seperti pembunuhan ilmuwan nuklir Iran atau serangan rudal Iran ke Israel memperdalam distrust.

Identitas Ideologis: Anti-Zionisme adalah inti dari identitas Republik Islam Iran, dan mengubah sikap ini akan menghadapi resistensi dari kelompok garis keras di dalam negeri. Di Israel, ketakutan terhadap ancaman nuklir Iran telah mengakar di publik dan elit politik.

Eskalasi Militer Terbaru: Serangan langsung pada 2024 telah meningkatkan ketegangan ke level baru, dengan kedua pihak menunjukkan kesiapan untuk konfrontasi terbuka. Hal ini membuat de-eskalasi menjadi lebih sulit dalam waktu dekat.

Pengaruh Proksi: Kelompok seperti Hizbullah dan Hamas, yang didukung Iran, serta aliansi Israel dengan negara-negara Teluk, memperumit upaya rekonsiliasi karena melibatkan banyak aktor dengan agenda sendiri.

Skenario Rekonsiliasi

Menurut teori rekonsiliasi, seperti yang dikutip dari Johan Galtung, proses rekonsiliasi memerlukan tahapan seperti pengungkapan kebenaran, pengakuan kesalahan, permintaan maaf, dan pembangunan kepercayaan.

Dalam konteks Iran-Israel, skenario realistis mungkin melibatkan

Gencatan Senjata Tidak Resmi: Kedua pihak bisa sepakat untuk menghentikan serangan langsung atau sabotase melalui saluran diplomatik tidak langsung, seperti yang pernah dilakukan melalui Swiss atau Oman.

Perjanjian Nuklir Baru: Keberhasilan negosiasi untuk menghidupkan kembali JCPOA atau perjanjian serupa dapat mengurangi ketegangan, terutama jika Israel merasa ancaman nuklir berkurang.

Kerja Sama Ekonomi Tidak Langsung: Iran dan Israel bisa terlibat dalam proyek regional, seperti koridor perdagangan, melalui pihak ketiga seperti UEA atau Tiongkok, seperti yang terjadi dalam rekonsiliasi Arab Saudi-Iran.

Peran PBB: Diplomasi multilateral melalui PBB dapat menjadi platform untuk dialog, meskipun tantangannya adalah menyeimbangkan kepentingan domestik dan internasional.

Namun, skenario ini memerlukan kemauan politik yang kuat dari kedua pihak, yang saat ini tampak sulit dicapai mengingat ketegangan yang terus meningkat.

 

Artikel Terbaru

Jutaan Jemaah Haji Mulai Padati Arafah, Puncak Ibadah Haji Berlangsung Khidmat

INNNEWS - Jutaan jemaah haji dari berbagai negara mulai memadati Padang Arafah menjelang pelaksanaan...

Tim KELADATA UBSI Solo Lolos 50 Besar Ajang Riset Bergengsi Kota Surakarta

INNNEWS - Prestasi membanggakan kembali diraih dunia pendidikan di Kota Surakarta. Tim KELADATA dari...

Gelagat Tak Beres WO Penipu Pengantin di Jaktim Mulai Terlihat Jelang Hari Pernikahan

INNNEWS-Kasus dugaan penipuan yang dilakukan seorang wedding organizer (WO) di Jakarta Timur menjadi sorotan...

Viral Lokasari Jakbar Diduga Jadi Tempat Prostitusi Anak, Polisi Turun Tangan Selidiki

INNNEWS-Jakarta – Kawasan Lokasari, Jakarta Barat, kembali menjadi sorotan publik setelah viral di media...

artikel yang mirip

Jutaan Jemaah Haji Mulai Padati Arafah, Puncak Ibadah Haji Berlangsung Khidmat

INNNEWS - Jutaan jemaah haji dari berbagai negara mulai memadati Padang Arafah menjelang pelaksanaan...

Tim KELADATA UBSI Solo Lolos 50 Besar Ajang Riset Bergengsi Kota Surakarta

INNNEWS - Prestasi membanggakan kembali diraih dunia pendidikan di Kota Surakarta. Tim KELADATA dari...

Gelagat Tak Beres WO Penipu Pengantin di Jaktim Mulai Terlihat Jelang Hari Pernikahan

INNNEWS-Kasus dugaan penipuan yang dilakukan seorang wedding organizer (WO) di Jakarta Timur menjadi sorotan...