57 total views
INNNEWS – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak pada 13 Juli 2026. Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup sementara setelah serangkaian serangan, sementara AS melancarkan serangan balasan. Eskalasi ini mengancam stabilitas pasokan minyak global.
Menurut laporan Reuters dan Associated Press, eskalasi terbaru dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal kontainer di Selat Hormuz pada akhir pekan. Iran mengklaim kapal tersebut melintas melalui rute tidak resmi, kemudian menyatakan Selat Hormuz “ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk, termasuk Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Jordan. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menghancurkan pusat komando dan fasilitas pemeliharaan jet di lokasi-lokasi tersebut. Beberapa negara Teluk melaporkan sirene serangan udara dan intersepsi rudal.
Amerika Serikat melalui US Central Command (CENTCOM) melancarkan serangan udara terhadap puluhan target militer Iran, termasuk fasilitas rudal, drone, dan radar di sepanjang pantai selatan Iran. Presiden Donald Trump menegaskan AS tidak akan membiarkan Iran mengganggu kebebasan navigasi di perairan internasional.
“AS mengendalikan Selat Hormuz,” kata Trump dalam pernyataannya, sambil menekankan bahwa serangan bertujuan menurunkan kemampuan Iran menyerang kapal sipil.
Dampak Ekonomi: Harga Minyak Naik Tajam
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya melaluinya sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketegangan ini langsung memicu lonjakan harga minyak Brent Crude naik lebih dari 3-4%. West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan serupa. Para analis memperingatkan potensi gangguan pasokan yang lebih luas jika konflik berlanjut.
Konflik ini terjadi meskipun ada Memorandum of Understanding (MoU) interim yang ditandatangani Juni lalu untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Berbagai pihak, termasuk PBB, mendesak de-eskalasi agar tidak kembali ke konflik skala penuh.
Sekjen PBB António Guterres menyatakan kekhawatiran atas “konsekuensi katastrofik” jika kekerasan berlanjut. Sementara itu, negara-negara Teluk mengecam serangan Iran terhadap wilayah mereka.


