49 total views
INNNEWS — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru terhadap target-target di Iran, yang memicu balasan dari Teheran. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara (ceasefire) dengan Iran telah “berakhir”.
Menurut US Central Command (CENTCOM), serangan AS menargetkan lebih dari 80 lokasi di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, radar, dan puluhan kapal kecil milik Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Tindakan ini merupakan balasan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz pada Selasa (8 Juli).
Iran melalui IRGC mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap 85 target militer AS di Bahrain dan Kuwait. Sirene peringatan terdengar di kedua negara tersebut, dan Kuwait melaporkan berhasil mencegat beberapa rudal balistik dan drone.
Berbicara di sela KTT NATO di Ankara, Turki, Trump menyatakan: “Saya pikir ini sudah selesai. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka scum (sampah).”
Meski demikian, Trump mengatakan negosiasi masih bisa dilanjutkan, meskipun ia meragukan hasilnya. Ia juga mengancam serangan lebih lanjut, termasuk terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan pabrik desalinasi.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan AS sebagai “pelanggaran mencolok” terhadap Memorandum of Understanding (MoU) yang ditengahi Pakistan sebelumnya. Iran menegaskan akan membela kedaulatannya sesuai Pasal 51 Piagam PBB dan memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak mendukung agresi AS.
Konflik ini dikhawatirkan akan membuat harga minyak melonjak tajam kembali. Mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi seperlima pasokan minyak dunia. Konflik ini bermula dari operasi militer AS-Israel awal tahun 2026. MoU sementara sempat dicapai untuk menghentikan pertempuran dan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi sering dilanggar kedua belah pihak.
Situasi masih sangat dinamis. Berbagai pihak internasional, termasuk PBB, mendesak agar kedua pihak kembali ke meja perundingan untuk mencegah perang skala penuh yang bisa berdampak luas di Timur Tengah.


