485 total views
INNNEWS – Pembahasan mengenai pengelolaan sampah di Kota Solo kembali menjadi sorotan publik. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo yang diharapkan menjadi solusi utama penanganan sampah kota justru masih menuai kritik dari DPRD Kota Surakarta. Sejumlah anggota dewan menilai pengelolaan proyek tersebut belum matang dan masih menghadapi berbagai kendala teknis maupun operasional.
Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Kota Surakarta bahkan melakukan inspeksi mendadak ke kawasan PLTSa Putri Cempo untuk melihat langsung progres pengolahan sampah di lokasi tersebut. Dari hasil peninjauan, DPRD menyoroti kapasitas pengolahan yang dinilai belum optimal dibandingkan dengan jumlah produksi sampah harian Kota Solo yang mencapai sekitar 400 ton per hari.
Ketua Pansus LKPJ DPRD Surakarta, Sugeng Riyanto, menyebut PLTSa Putri Cempo saat ini baru mampu mengolah sekitar 100 ton sampah per hari. Padahal, fasilitas tersebut ditargetkan dapat mengolah hingga 200 ton sampah setiap hari pada pertengahan 2026. Menurutnya, target tersebut harus benar-benar diwujudkan agar persoalan sampah di Solo tidak terus berulang setiap tahun.
Selain kapasitas pengolahan yang belum maksimal, DPRD juga menyoroti sejumlah persoalan teknis, terutama pada sistem pemilahan sampah yang dinilai masih membutuhkan penyempurnaan teknologi. Proses pemilahan menjadi faktor penting karena sangat memengaruhi efektivitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Jika sistem tersebut belum optimal, maka target pengurangan sampah akan sulit tercapai.
Kritik dari DPRD juga muncul karena pengelolaan sampah dinilai masih “meraba-raba” dan belum menunjukkan hasil signifikan. Bahkan, ada penilaian bahwa target pengolahan yang sebelumnya disebut mencapai ratusan ton per hari belum terealisasi sesuai harapan. Kondisi ini membuat DPRD mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan PLTSa Putri Cempo.
Meski demikian, DPRD tetap memberikan apresiasi terhadap upaya pengelola yang terus menjalankan operasional PLTSa di tengah berbagai keterbatasan. Dewan berharap proyek tersebut dapat berkembang menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di Solo, terutama setelah sistem pengolahan dan teknologi pendukung diperbaiki secara bertahap.
Pemerintah Kota Solo sendiri terus didorong untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Tidak hanya mengandalkan pengolahan di PLTSa, edukasi pengurangan sampah kepada masyarakat juga dinilai penting agar volume sampah harian dapat ditekan. DPRD berharap langkah evaluasi yang dilakukan saat ini mampu menghasilkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, efektif, dan berkelanjutan bagi Kota Solo di masa mendatang


