28 total views
INNNEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Indonesia telah memasuki fase El Niño intensitas kuat per akhir Juli 2026. Fenomena ini berpotensi berkembang menjadi Super El Niño (sangat kuat) pada akhir tahun, dengan peluang mencapai 75–81 persen, dan diperkirakan lebih dahsyat dibanding El Niño 2023.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 sudah mencapai kisaran +1,74 hingga +2,26 derajat Celsius, jauh melampaui ambang batas El Niño kuat. “Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Niño kuat. Kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal, yaitu terkait dengan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan,” ujarnya setelah rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Selasa (28/7/2026).
Apa Itu Super El Niño?
El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur menghangat secara signifikan. Ketika anomali melebihi +2,0 derajat Celsius, fenomena ini disebut Super El Niño atau El Niño sangat kuat. Prediksi lembaga internasional, termasuk model dari Australia (BOM) dan berbagai pusat iklim global, menunjukkan peluang tinggi fenomena ini mencapai puncaknya pada Oktober–Desember 2026 dan bertahan hingga awal 2027.
Pakar klimatologi BRIN Erma Yulihastin menegaskan bahwa El Niño 2026 sudah lebih kuat daripada 2023 dan berpotensi mendekati atau bahkan melampaui episentrum historis seperti 1997/1998 dan 2015/2016.
Dampak di Indonesia
Hingga pertengahan Juli 2026, sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia (509 Zona Musim) telah memasuki musim kemarau. El Niño memperkuat kondisi kering tersebut, sehingga curah hujan di banyak daerah diperkirakan berada di bawah normal, khususnya selama puncak musim kemarau Juli–Oktober 2026.
Wilayah yang paling berisiko meliputi:
- Jawa (terutama Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY)
- Bali dan Nusa Tenggara
- Sebagian Sumatra bagian selatan
- Kalimantan bagian selatan
- Sulawesi
- Papua bagian selatan
Dampak yang sudah mulai terasa antara lain kekeringan di sejumlah daerah, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Risiko lain mencakup penurunan debit air di waduk dan sungai, gangguan produksi pertanian, penurunan kualitas udara, serta peningkatan kasus ISPA.
Respons Pemerintah
Pemerintah telah menginstruksikan kesiapsiagaan lintas sektor. BMKG bersama BNPB, Kementerian Kehutanan, dan pihak terkait menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengisi sekitar 240 waduk guna menjaga pasokan air irigasi, air bersih, dan PLTA.
Presiden Prabowo Subianto meminta daerah-daerah untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan ancaman karhutla. Fokus utama diarahkan pada enam provinsi rawan kebakaran: Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran lahan.
El Niño kuat hingga Super El Niño 2026 menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan, ketersediaan air, dan pengendalian karhutla di Indonesia. Dengan prediksi yang semakin menguat, kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci untuk meminimalkan dampaknya.


