31 total views
INNNEWS – Sebanyak 108 siswa SD Islam Internasional (SDII) Al Abidin Kota Solo mengalami gejala keracunan pada Selasa, 28 Juli 2026. Mereka mengeluhkan mual, pusing, sakit perut, hingga muntah-muntah.
Kasus ini terungkap setelah salah satu cucu anggota Komisi IV DPRD Solo yang bersekolah di SDII Al Abidin juga mengalami gejala serupa. Ketua Komisi IV DPRD Solo, Sugeng Riyanto, mengatakan informasi baru diterima pihaknya pada Jumat, 31 Juli 2026.
“Di hari Jumat kami dapat kabar, kebetulan salah satu anggota Komisi IV cucunya termasuk sekolah di situ dan yang keracunan,” ujar Sugeng saat dihubungi, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Sugeng, gejala mulai muncul sejak siang hingga malam hari Selasa. Beberapa siswa bahkan sudah muntah di sekolah sebelum pulang. Akumulasi laporan dari orang tua menunjukkan total 108 siswa terdampak, dengan sebagian berobat ke rumah sakit, puskesmas, maupun rawat jalan.
Penyebab Masih Diselidiki
Penyebab pasti keracunan belum diketahui. Ada tiga kemungkinan yang tengah didalami: makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), makanan dari kantin sekolah, atau air minum galon yang tersedia di setiap kelas.
“Ada yang mengonsumsi MBG tapi enggak apa-apa. Tapi dia jajan di kantin. Ada yang jajan di kantin dan tidak mengonsumsi MBG kena juga,” jelas Sugeng.
Kepala Satgas MBG Kota Solo, Purwanti, menambahkan bahwa hasil investigasi lapangan menunjukkan tidak semua siswa yang mengalami gejala mengonsumsi menu MBG. Oleh karena itu, pihaknya belum bisa menyimpulkan sumber keracunannya.
Dinas Kesehatan Kota Solo telah mengambil sampel makanan MBG, makanan kantin, dan air minum sekolah untuk diuji laboratorium. Hasil uji diperkirakan keluar paling cepat Selasa, 4 Agustus 2026.
Dapur SPPG Ditutup Sementara
Menyusul kejadian ini, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al Abidin di Banyuanyar 1 ditutup sementara. SPPG tersebut dikelola oleh Yayasan Al Abidin sendiri.
“Saat ini memang diberhentikan dulu. Ya dari SPPG di Banyuanyar 1,” kata Purwanti.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 90-an siswa terdeteksi mengalami gejala. Rata-rata keluhan bersifat ringan, berupa mual, muntah, dan sakit perut. Tiga siswa sempat dirawat di rumah sakit dan satu siswa di klinik, namun semuanya sudah diperbolehkan pulang.
Sugeng Riyanto menekankan bahwa kejadian ini menjadi peringatan bagi semua pihak. “Ini jadi warning. Meskipun kita belum tahu penyebabnya, apakah karena MBG atau faktor lain, tetapi apa pun ini kita jadikan momentum untuk meningkatkan lagi kehati-hatian,” ujarnya.
Pemerintah Kota Solo, DPRD, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Satgas MBG terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan dan menunggu hasil laboratorium guna menentukan langkah selanjutnya.


