21 total views
INNNEWS – Kota Hiroshima, Jepang, memperingati 81 tahun jatuhnya bom atom Amerika Serikat pada Kamis (6/8/2026). Upacara tahunan digelar di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima di tengah meningkatnya ketegangan global dan kekhawatiran akan risiko senjata nuklir.
Ratusan hingga ribuan orang, termasuk penyintas bom atom (hibakusha), keluarga korban, pejabat Jepang, serta perwakilan dari lebih dari 120 negara dan wilayah, menghadiri upacara tersebut. Pada pukul 08.15 waktu setempat—tepat saat bom atom meledak 81 tahun lalu—para peserta mengheningkan cipta selama satu menit. Lonceng perdamaian berbunyi, sementara aktivitas di kota sempat terhenti sejenak.
Seruan Penghapusan Senjata Nuklir
Wali Kota Hiroshima, Kazumi Matsui, dalam Deklarasi Perdamaian yang dibacakan di depan tugu peringatan, memperingatkan bahaya yang masih mengintai. “Meremehkan sifat tidak manusiawi senjata nuklir dan menerima penggunaan kekerasan untuk mengejar kemakmuran sendiri berisiko memicu siklus balas dendam kekerasan yang pada akhirnya bisa menghasilkan Hiroshima atau Nagasaki baru,” ujar Matsui.
Ia mengecam praktik negara-negara besar yang masih menggunakan senjata nuklir sebagai alat intimidasi dan pencegah. Matsui juga menyerukan generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam mendorong konsensus global menuju penghapusan senjata nuklir.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang hadir dalam upacara menegaskan komitmen Jepang terhadap “tiga prinsip non-nuklir”: tidak memproduksi, tidak memiliki, dan tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayah Jepang. “Kehancuran akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, serta penderitaan yang tak terbayangkan yang dialami begitu banyak orang, tidak boleh terulang,” katanya. Takaichi menambahkan bahwa Jepang akan terus berupaya mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir dan perdamaian yang abadi.
Latar Belakang Tragedi
Pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15, pesawat pengebom B-29 Amerika Serikat Enola Gay menjatuhkan bom atom bermama “Little Boy” di atas Hiroshima. Ledakan itu meratakan sebagian besar pusat kota dan menewaskan sekitar 140.000 orang hingga akhir tahun 1945, termasuk akibat luka bakar, trauma, dan penyakit akibat radiasi. Tiga hari kemudian, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki yang menewaskan sekitar 74.000 orang. Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, menandai berakhirnya Perang Dunia II di Asia.
Saat ini, jumlah hibakusha yang masih hidup terus berkurang. Rata-rata usia mereka telah melebihi 86 tahun. Daftar nama korban di tugu peringatan kini mencapai lebih dari 353.000 orang, termasuk penyintas yang meninggal dalam setahun terakhir.
Konteks Global
Peringatan tahun ini berlangsung di tengah gagalnya pertemuan tinjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) mencapai deklarasi konsensus, serta meningkatnya ketegangan di berbagai kawasan. Jepang, sebagai satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan bom atom, kembali menyerukan dunia untuk belajar dari sejarah dan mencegah terulangnya tragedi serupa.
Upacara di Hiroshima menjadi pengingat abadi akan dampak menghancurkan senjata nuklir dan pentingnya upaya bersama mewujudkan dunia yang lebih damai.


