862 total views
INN INDONESIA – EKONOMI – Belakangan ini publik tanah air dibikin heboh dengan kabar melonjaknya harga mi instan hingga tiga kali lipat. Berdasarkan informasi yang beredar, kenaikan harga mi instan dipicu lonjakan harga gandum di pasar internasional.
Namun kabar kenaikan harga mi instan itu disebut tidak benar oleh PT Indofood.
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Franciscus Welirang menyebut kabar tersebut berlebihan.
Franciscus menjelaskan, pada dasarnya komponen mi instan tidak serta merta 100 persen berasal dari bahan baku gandum. Sehingga, naiknya harga gandum tidak bakal membuat harga mi instan tiba-tiba melonjak signifikan.
“Mengenai kabar harga mi instan bisa naik tiga kali lipat, itu berlebihan. Kan saat ini harga gandum belum naik sampai 100 persen,” jelas Franciscus mengutip Tribunnews, Jumat (12/8/2022).
“Kemudian juga mi instan itu dalam costing banyak komponen lainnya (selain gandum),” imbuhnya.
Franciscus menerangkan, sebenarnya harga gandum dunia telah mengalami kenaikan sejak tahun 2021 dan bukan terjadi baru-baru ini saja. Nyatanya, seiring dengan meningkatnya harga gandum tidak membuat harga mi instan mengalami lonjakan signifikan.
“Sampai saat ini harga gandum dunia sudah tinggi, jadi kalau nanti ada kenaikkan terigu, harga mi instan tidak akan ikut tinggi. Naiknya harga gandum maupun terigu sudah terjadi sejak 2021,” paparnya.
Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengungkapkan, saat ini suplai gandum Indonesia aman, tidak terganggu oleh perang Rusia dan Ukraina.
Pasokan gandum ke Indonesia banyak didatangkan dari Australia, Amerika, ataupun Kanada.
“Importir gandum ke Indonesia yang terbesar bukan Rusia. Yang besar itu dari Australia,” papar Ratna.
Untuk mi instan sendiri, terdiri dari beragam komponen seperti gula, minyak, cabai, bawang, dan lain-lainnya. Belum lagi pada kemasannya terdapat komponen seperti plastik dan juga karton.
“Mi instan kalau naik kan tidak hanya terigu, dalam mi instan itu komponennya banyak seperti cabai, minyak, ada juga packaging,” ujarnya.
Dalam catatan Aptindo, harga tepung hanya berkontribusi sekitar 20 persen dari total biaya produksi mi instan. Ratna mengatakan kenaikan harga mi instan justru bisa akan berdampak langsung ke komoditas bahan pokok lainnya seperti cabai dan minyak goreng.
Sementara industri berbasis tepung yang lain seperti roti dan biskuit relatif aman.
“Karena di produk tersebut ada gula, mentega, susu, dan bahan lainnya, tidak melulu tepung terigu,” kata Ratna.
Ratna menilai kenaikan harga tepung terigu malah berdampak pada industri berbasis tepung berskala kecil dan menengah.
Beberapa industri tersebut di antaranya mi basah yang biasa dipasok untuk penjual mi ayam hingga kue tradisional.
Dari Pantauan INN Indonesia di sejumlah supermarket, harga mi instan masih stabil seperti biasanya. Belum ada kenaikan yang signifikan.


