867 total views
INN NEWS – Deklarasi Anies Baswedan sebagai calon presiden semakin menyakinkan bahwa beliau semakin mantap dengan pihannya menjadi politisi. Satu dekade yang lalu banyak orang berharap dengan beliau bahkan mendapat julukan sebagai bapak inspirasi.
Pidato pembakar semangat khas beliau mampu menarik empati masyarakat cukup besar pada waktu itu.
Salah satu pidato yang khas dari beliau dalam setiap orasinya adalah merajut tenun kebangsaan. Gerakan mengajar yang dipopulerkan oleh bapak inspirasi satu ini juga berhasil menyebar keberbagai kota dan desa di Indonesia.
Sampai saat ini masih ada banyak gerakan mengajar yang terus bergerak, buah dari gerakan mengajar cetusan beliau.
Dalam waktu singkat, pak Anies Baswedan melenggang ke pusat bersama bapak Jokowi. Banyak orang tentu berharap, kombinasi pak Jokowi dan pak Anies dalam pemerintahan akan membawa perubahan besar. Sayang harapan itu hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat.
Belum menunjukan hasil kerja yang diharapkan, pak Anies sudah diberhentikan menjadi menteri pak Jokowi. Kenegarawan pak Anies Baswedan sesungguhnya diuji dalam hal ini.
Dari sinilah titik balik dari pak Anies terjadi. Bukannya pulang dan terus mengerjakan pendidikan, pak Anies semakin mantap melenggang menjadi politisi.
Lalu apa salahnya menjadi politisi? Jelas bukan menjadi politisinya yang salah, melainkan strategi dan narasi yang dipilih. Bahkan pilkada 2017 menjadi bukti jika pak Anies memilih untuk menjadi politisi level paling bawah.
Pak Anies memilih bermain dengan politisasi agama demi melenggang menjadi DKI.
Dari merajut tenun kebangsaan, pak Anies gemar menarasikan sentimen SARA. Sejarah mencatat dampak dari pilkada DKI 2017, masyarakat terbelah dan sangat berpotensi terjadinya perang saudara.
Cilakanya, nampaknya banyak orang belum menyadari betapa berbahayanya politisi seperti pak Anies ini. Setelah menjabat menjadi DKI 1, beliau dengan tenang kembali mencuci tangan dari politisasi agama yang membawanya menang.
Tanpa ada beban apapun pak Anies tetap kekeh memperkenalkan diri sebagai tokoh nasionalis.
Belum lama ini setelah tidak menjadi DKI satu, beliau memperkenalkan diri menjadi bagian Pemuda Pancasila. Tidak lama berselang Nasdem juga mendeklarasikan pak Anies sebagai calon presiden.
Jika kita analogikan maka kisah Riski Bilar dan Lesty Kejora merupakan cerita yang tepat menggambarkan keresahan terhadap pak Anies saat ini.
Gilrandi (Relawan Solo Mengajar)


