64 total views
INNNEWS – Kasus yang menjerat Nadiem Makarim kini tak lagi sekadar isu hukum domestik. Efek domino dari kasus ini mulai terasa hingga ke forum-forum internasional dan kalangan investor global. Hanya dalam hitungan bulan sejak mantan Menteri Pendidikan sekaligus pendiri Gojek itu ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani rumah tahanan, sentimen terhadap iklim investasi dan pemerintahan Indonesia berubah dengan cepat.
Nadiem Makarim, yang selama ini menjadi ikon generasi muda Indonesia yang sukses, kini menghadapi tuduhan korupsi terkait pengadaan Chromebook senilai triliunan rupiah pada masa pandemi Covid-19. Jaksa menyebut adanya kerugian negara ratusan juta dolar Amerika Serikat. Nadiem membantah keras seluruh tuduhan dan menganggap dirinya sebagai korban kriminalisasi kebijakan.
Kasus ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, mantan Menteri Perdagangan Thomas Lembong telah divonis penjara, sementara beberapa teknokrat lain juga merasakan tekanan serupa. Kritikus menyebut fenomena ini sebagai tren overkriminalisasi terhadap pengambilan keputusan kebijakan pemerintah.
Artikel berjudul “Indonesia cannot afford to lose its top talent to fear” yang dimuat The Straits Times pada Jumat, 15 Mei 2026, langsung menjadi viral di kalangan diaspora dan investor. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dr Dino Patti Djalal, menyatakan dengan tegas bahwa banyak talenta bertanya: “Apa gunanya bergabung dengan pemerintah jika nanti akan ‘dinadiem-ed’?” Ia menyebut kriminalisasi kebijakan ini sebagai kanker bagi ekonomi dan bangsa Indonesia.
Reaksi dunia internasional pun semakin kuat. Investor asing mulai menanyakan soal kepastian hukum dan business judgment rule dalam setiap pertemuan dengan pemerintah. Sovereign Wealth Fund Danantara yang digadang-gadang Presiden Prabowo Subianto sebagai mesin pertumbuhan baru mendapat sorotan lebih tajam terkait tata kelola dan risiko politik. Perusahaan teknologi serta unicorn lokal juga melaporkan kesulitan merekrut talenta senior yang bersedia terlibat dalam proyek-proyek pemerintah.
Dampaknya mulai terlihat nyata. Beberapa indeks persepsi korupsi dan kemudahan berbisnis Indonesia mengalami sedikit penurunan di kalangan investor global. Padahal, Indonesia sedang berupaya menarik ratusan miliar dolar investasi untuk mewujudkan visi besar ke depan. Banyak talenta di diaspora yang semula berniat pulang ke Tanah Air kini kembali ragu.
Pemerintahan Prabowo Subianto kini berada di persimpangan yang sulit. Di satu sisi, pemberantasan korupsi tetap menjadi tuntutan kuat masyarakat. Di sisi lain, cara penanganan kasus-kasus teknokrat berisiko membuat Indonesia kehilangan talenta terbaiknya — sumber daya yang justru sangat dibutuhkan untukt mencapai target Indonesia Emas 2045.
Seorang pengusaha teknologi yang enggan disebut namanya mengatakan, “Kami tidak takut korupsi. Yang kami takutkan adalah dianggap korupsi hanya karena mengambil keputusan bisnis yang ternyata tidak berhasil.”
Kasus Nadiem Makarim telah menjadi bola liar yang mengguncang tidak hanya dunia usaha dan birokrasi dalam negeri, tetapi juga kepercayaan investor global. Pertanyaan besar yang kini muncul adalah apakah pemerintah mampu membedakan antara korupsi sungguhan dengan risiko bisnis yang wajar, sebelum talenta terbaik Indonesia memilih untuk tetap berada di luar negeri.


