HomeGaya HidupThrifting hingga Brand Lokal: Tren Fashion GenZ yang Berdampak ke Sosial-Lingkungan

Thrifting hingga Brand Lokal: Tren Fashion GenZ yang Berdampak ke Sosial-Lingkungan

Published on

spot_img

 2,510 total views

INN STYLE – Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, menunjukkan preferensi terhadap fashion yang lebih berkelanjutan, seperti thrifting, upcycling, dan dukungan terhadap brand lokal.

Tren ini semakin populer karena tidak hanya berkaitan dengan gaya, tetapi juga kesadaran lingkungan dan sosial.

Meskipun tidak semua generasi muda tertarik pada hal ini, semakin banyak yang mulai sadar akan pentingnya tren fashion yang ramah lingkungan.

Meskipun fast fashion masih populer, Generasi Z tetap memperhatikan isu lingkungan. Banyak dari mereka beralih ke thrift, upcycling, atau brand lokal untuk mendukung ekonomi Indonesia. Bahkan, tren vintage sangat digemari di kalangan Generasi Z, mendorong minat mereka dalam belanja pakaian bekas atau thrift.

Peran mereka sangat signifikan dalam menjaga keberlanjutan industri fashion, karena mayoritas pendukungnya berasal dari kalangan mereka sendiri.

Thrifting (belanja di toko barang bekas):

Generasi Z lebih memilih opsi yang berkelanjutan daripada membeli pakaian baru, dengan mencari pakaian unik dan berbeda di toko barang bekas. Selain harga yang lebih terjangkau, mereka juga sadar akan dampak negatif produksi pakaian baru terhadap lingkungan.

Upcycling: 

Generasi Z seringkali melakukan upcycling dengan memodifikasi pakaian sendiri atau membeli barang-barang upcycled dari penjual lokal atau online. Praktik ini tidak hanya unik secara kreatif, tapi juga mengurangi limbah tekstil.

Brand Lokal: 

Brand lokal semakin populer karena fokus pada praktik produksi yang berkelanjutan dan nilai-nilai yang disukai oleh Generasi Z. Mereka mendukung brand lokal karena merasa terhubung secara lokal dan membantu ekonomi di Indonesia.

Tren-tren ini menunjukkan pergeseran besar dalam cara Generasi Z mendekati fashion.

Terlihat bahwa Gen Z lebih peduli tentang dampak sosial dan lingkungan dari konsumsi fashion mereka, dan inilah yang mendorong munculnya praktik-praktik berkelanjutan seperti thrifting, upcycling, dan dukungan terhadap brand lokal.

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.