HomeGlobal'In God We Trust' Hantar Kemenangan Trump

‘In God We Trust’ Hantar Kemenangan Trump

Published on

spot_img

 966 total views

Nilai-nilai tradisional, Kekristenan yang dipegang teguh oleh mayoritas orang Amerika ini yang menjadi salah satu titik kekalahan Kamala.

INN INTERNASIONAL – Kemenangan Trump atas Kamala Harris di Pilpres AS 2024 tak lepas dari sorotan dunia. Sebab Amerika memiliki peran besar bagi dunia.

Salah satu hal yang menarik di balik kemenangan Trump yang tak banyak dilihat adalah ‘In God We Trust’.

Sebuah semboyan sakral Amerika Serikat yang juga dipajang pada uang negara Paman Sam itu.

Kalimat itu selalu jadi peringatan bahwa perjalanan hidup ini tidak bisa dipisahkan dengan direction Tuhan.

Diketahui masyarakat tradisional AS yang memegang teguh nilai-nilai Kekristenan lebih memilih Trump ketimbang Kamala lantaran banyak sekali kebijakan-kebijakan era Joe Biden-Kamala yang mencoreng nilai-nilai Kekristenan.

Hal yang terlihat nyata misalnya seperti kebijakan-kebiakkan yang pro aborsi, LGBTQ, bahkan yang paling disoroti adalah perang. Padahal nilai-nilai Kekristenan mengajarkan tentang cinta kasih dan perdamaian.

Baca juga:

Harapan Muslim Amerika Menangkan Trump

Kamala tak solutif terhadap hal-hal ini, ia bahkan mendukung dan memutuskan melanjutkan kebijakan Biden.

Misalnya seperti mendukung kebijakan anak sekolah di bawah umur bisa operasi kelamin tanpa izin orang tua dan menormalisasi pelajaran terhadap seksual LG (lesbi dan gay).

Sementara Trump berjanji untuk menghentikannya jika terpilih sebagai presiden.

Orang Amerika sebernaya tidak terlalu ekstrem dengan isu-isu LGBTQ, tetapi normalisasi yang dilakukan Biden-Kamala menimbulkan murka besar bagi kaum religius.

Bahkan pemilih partai Demokrat, juga yang berkulit hitam menarik dukungan dari Kamala karena akan melanjutkan nilai-nilai tersebut.

Kamala juga tak punya solusi-solusi soal perdamaian dunia, sementara Trump berjanji akan menjaga dunia dari perang.

Nilai-nilai tradisional, Kekristenan yang dipegang teguh oleh mayoritas orang Amerika ini yang menjadi salah satu titik kekalahan Kamala.

Sebab Kamala diniali mewarisi kegagalan Biden dan nilai-nilai yang telah diteruskan oleh pendahulu-pendahulu bangsa.

Sudut pandang catatan Pilpres AS dari refleksi para narasumber yang dimintai keterangan oleh INN dan dari berbagai media rujukan.

 

 

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.