1,586 total views
INN NEWS – Setelah Perang Enam Hari tahun 1967 yang mengubah peta geopolitik Timur Tengah, kini muncul spekulasi tentang “Perang Dua Belas Hari” tahun 2025 antara Israel dan Iran yang digambarkan dalam sejumlah media internasional.
Dalam narasi tersebut, Israel disebut berhasil menguasai superioritas udara atas Iran dalam hitungan jam, menarget lebih dari 15 pemimpin militer Iran, serta menghancurkan fasilitas nuklir Iran bersama Amerika Serikat.
Meski belum dikonfirmasi secara resmi dan masih berupa representasi spekulatif atau simulasi geopolitik, skenario ini mengundang pertanyaan penting: apakah konflik besar semacam ini akan menjadi titik balik hubungan diplomatik di kawasan, khususnya antara Israel dan Arab Saudi?
Sejarah mencatat, kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari membuka jalan bagi Perjanjian Camp David antara Israel dan Mesir.
Kini, banyak pihak mempertanyakan apakah skenario perang modern seperti ini dapat mendorong Arab Saudi bergabung dalam Abraham Accords — kesepakatan normalisasi antara Israel dan negara-negara Arab.
Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) telah menunjukkan pendekatan pragmatis terhadap isu-isu regional, terutama terkait ancaman Iran dan peluang ekonomi dari hubungan regional yang lebih stabil.
Dengan latar belakang persaingan ideologis Sunni-Syiah dan konflik kawasan yang berlarut-larut, kepentingan strategis dapat mendorong Arab Saudi untuk mempertimbangkan normalisasi, terutama jika keamanan kawasan dapat dijamin dan Palestina mendapat posisi dalam diplomasi baru tersebut.
Namun, semua ini bergantung pada realitas politik, tekanan domestik, dan dinamika global.
Yang pasti, skenario seperti ini memperlihatkan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak terlepas dari bayang-bayang konflik — dan potensi rekonsiliasi besar sering kali datang setelah titik ketegangan tertinggi.


