HomeTrendingPSI Keliru Bersandar pada Jokowi: Dompleng Popularitas yang Kian Pudar

PSI Keliru Bersandar pada Jokowi: Dompleng Popularitas yang Kian Pudar

Published on

spot_img

 611 total views

INN NEWS – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sedang menjadi sorotan karena strateginya yang dianggap keliru: mendompleng nama Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), untuk mendongkrak elektabilitas.

Langkah ini, menurut pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, justru berpotensi menjadi bumerang bagi PSI.

Di tengah berbagai isu negatif yang menerpa Jokowi, PSI dianggap gagal membaca situasi politik dan kurang percaya diri dengan kekuatan kadernya sendiri.

Strategi Matematis yang Menyesatkan

Jamiluddin menilai PSI berpikir terlalu matematis dengan mengaitkan diri pada Jokowi, berharap basis loyalis mantan presiden itu akan beralih mendukung partai.

“Melalui popularitas Jokowi, PSI juga berharap dapat menarik loyalis basis pemilihnya. Dengan begitu, loyalis Jokowi diharapkan dapat berlabuh dan bernaung di PSI. Berpikir demikian sangat matematis. Dalam politik, berpikir matematis kerap mengecoh, dan hasilnya jauh dari harapan,” ujar Jamiluddin.

Namun, strategi ini dianggap keliru karena popularitas Jokowi sendiri sedang meredup. Isu-isu negatif, mulai dari tudingan cawe-cawe politik hingga kontroversi selama 10 tahun kepemimpinannya, telah menurunkan kepercayaan publik terhadap Jokowi.

“Isu negatif seolah datang silih berganti yang dengan sendirinya menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi. Karena itu, mengidentikan PSI dengan Jokowi justru berpeluang jadi bumerang,” tambah Jamiluddin.

Alih-alih meraup dukungan, PSI justru berisiko dijauhi masyarakat.

Ketidakpercayaan pada Kader Sendiri

Lebih lanjut, Jamiluddin menyoroti bahwa langkah PSI mendompleng Jokowi menunjukkan kurangnya kepercayaan diri pada kader partai. Sebagai partai yang mengusung semangat anak muda, PSI seharusnya mampu membangun identitas sendiri tanpa bergantung pada figur eksternal.

“Upaya mengidentikkan partai dengan Jokowi menjadi indikasi kegagalan PSI. Sebagai partai anak muda, PSI terkesan tidak percaya diri pada kader yang dimilikinya,” katanya.

PSI bahkan disebut mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan ketokohan Jokowi, yang sayangnya sudah tidak secerah dulu. “Ketokohan dan popularitas Jokowi sudah pudar. Untuk mengerek ketokohan Jokowi saja sudah sulit, apalagi untuk mengdongkrak elektabilitas PSI,” tegas Jamiluddin.

Langkah ini dinilai tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga bisa membuat PSI semakin redup, mengikuti tren menurunnya citra Jokowi.

Kontroversi Logo Baru dan “Partai Super Tbk”

Selain strategi mendompleng Jokowi, PSI juga menuai kritik terkait perubahan logo dari bunga mawar menjadi gajah, yang diklaim sebagai simbol kekuatan dan kecerdasan.

Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, memperkenalkan konsep “Partai Super Tbk”, di mana semua kader dianggap sebagai pemilik saham partai.

Namun, perubahan ini tidak cukup untuk mengubah persepsi bahwa PSI masih berada di bawah bayang-bayang Jokowi.

Bahkan, pernyataan pendiri PSI, Jeffrie Giovanni, yang menyebut partai tidak akan berdiri tanpa peran Jokowi, semakin menguatkan narasi bahwa PSI adalah “partai keluarga” Jokowi.

Hal ini memicu kritik tajam dari PDIP, yang mempertanyakan integritas Jokowi dengan pernyataan, “Apa dia enggak punya malu?” ketika Jokowi mengklaim PSI bukan milik keluarganya.

Bumerang Politik bagi PSI

 

Beberapa postingan di platform X turut mencerminkan sentimen publik terhadap strategi PSI.

 

Seorang pengguna menyamakan langkah PSI dengan pendekatan politik berbasis pendzoliman, mirip strategi Partai Demokrat di masa lalu, yang memanfaatkan citra terdzolimi untuk mendongkrak elektabilitas.

 

Namun, ada kekhawatiran bahwa jika PSI gagal lolos ke DPR/DPRD, justru Jokowi yang akan menanggung malu. “Yang gue khawatirkan, pak Jokowi yang nggendong PSI, PSI ga’ berani tampil dengan kekuatan sendiri,” tulis seorang pengguna.

 

Pengamat lain menilai PSI gagal memahami dinamika politik saat ini. Dengan Jokowi yang kini tidak lagi menjabat presiden, pengaruhnya dianggap tidak cukup kuat untuk mengerek elektabilitas partai.

Bahkan, ada pandangan bahwa PSI hanya menjadi “duplikat Jokowi” melalui kepemimpinan Kaesang, yang kembali terpilih sebagai Ketua Umum PSI dengan 102.868 suara dalam e-voting.

 

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.