2,780 total views
INN NEWS – Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki distribusi penduduk miskin yang bervariasi di setiap pulaunya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, Pulau Jawa mencatatkan jumlah penduduk miskin terbanyak, sementara Pulau Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit.
Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial-ekonomi yang unik di setiap pulau, dipengaruhi oleh faktor kepadatan penduduk, urbanisasi, dan perkembangan infrastruktur.
Pulau Jawa: Pusat Kemiskinan dalam Jumlah Absolut
Pulau Jawa, sebagai pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan populasi Indonesia, memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. Menurut data BPS, sebanyak 13,24 juta jiwa atau sekitar 52,49% dari total penduduk miskin di Indonesia berada di Jawa pada Maret 2024.
Provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak adalah Jawa Timur (3,89 juta jiwa), diikuti Jawa Barat (3,66 juta jiwa), dan Jawa Tengah (3,39 juta jiwa).
Tingginya angka kemiskinan di Jawa tidak terlepas dari besarnya populasi di pulau ini. Dengan total penduduk mencapai 154,2 juta jiwa pada 2022, Jawa menyumbang sekitar 55,93% dari total populasi Indonesia.
Kepadatan penduduk yang tinggi, terutama di wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta (15.978 jiwa/km²), Jawa Barat (1.379 jiwa/km²), dan Banten (1.248 jiwa/km²), berkontribusi pada besarnya jumlah penduduk miskin secara absolut.
Menariknya, Jawa menjadi satu-satunya pulau di Indonesia di mana penduduk miskin di wilayah perkotaan lebih banyak dibandingkan di perdesaan.
Data BPS menunjukkan bahwa pada September 2019, penduduk miskin di perkotaan Jawa mencapai 6,3 juta jiwa, sedangkan di perdesaan sekitar 6,2 juta jiwa.
Fenomena ini dapat dijelaskan oleh tingginya urbanisasi, di mana banyak penduduk dari perdesaan bermigrasi ke kota dengan harapan kehidupan yang lebih baik, namun sering kali terjebak dalam kemiskinan perkotaan akibat biaya hidup yang tinggi dan persaingan kerja yang ketat.
Namun, secara proporsional, persentase penduduk miskin di Jawa relatif lebih rendah dibandingkan wilayah lain. Misalnya, persentase kemiskinan di DKI Jakarta pada September 2024 hanya 4,14%, jauh lebih rendah dibandingkan wilayah seperti Maluku dan Papua yang mencapai 18,62%.
Infrastruktur yang lebih maju, seperti Jalan Tol Trans-Jawa, turut mendukung perputaran ekonomi yang lebih cepat, sehingga membantu menekan tingkat kemiskinan di beberapa wilayah.
Kalimantan: Penduduk Miskin Paling Sedikit
Di sisi lain, Pulau Kalimantan mencatatkan jumlah penduduk miskin paling sedikit di Indonesia, dengan hanya 940 ribu jiwa atau sekitar 3,73% dari total penduduk miskin nasional per Maret 2024.
Secara proporsional, persentase penduduk miskin di Kalimartan juga terendah, yakni sekitar 5,81% pada 2020, dengan provinsi seperti Kalimantan Selatan (4,83%) dan Kalimantan Tengah (5,26%) menunjukkan angka kemiskinan yang relatif rendah.
Rendahnya jumlah penduduk miskin di Kalimantan dapat dikaitkan dengan kepadatan penduduk yang jauh lebih rendah dibandingkan Jawa.
Total kepadatan penduduk Kalimantan hanya sekitar 200 jiwa/km², dengan Kalimantan Utara memiliki kepadatan terendah, yaitu 9 jiwa/km². Selain itu, Kalimantan dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah, seperti hasil hutan, tambang, dan perkebunan, yang memberikan peluang ekonomi bagi penduduk lokal.
Provinsi Kalimantan Barat, misalnya, menjadi penyumbang penduduk terbanyak di pulau ini dengan 5,5 juta jiwa, tetapi tetap memiliki tingkat kemiskinan yang relatif rendah.
Meski demikian, rendahnya jumlah penduduk miskin di Kalimantan tidak selalu mencerminkan kesejahteraan merata.
Sebagian besar penduduk miskin di Kalimantan tinggal di wilayah perdesaan, di mana akses ke infrastruktur dan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan masih terbatas dibandingkan di Jawa.
Faktor Penyebab dan Implikasi
Perbedaan jumlah penduduk miskin antara Jawa dan Kalimantan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Pertama, kepadatan penduduk menjadi penyebab utama tingginya jumlah penduduk miskin di Jawa.
Dengan populasi yang besar, jumlah penduduk miskin secara absolut menjadi lebih tinggi, meskipun persentasenya relatif kecil. Kedua, urbanisasi di Jawa menciptakan fenomena kemiskinan perkotaan yang unik, berbeda dengan pulau lain yang didominasi kemiskinan perdesaan. Ketiga, infrastruktur dan akses ekonomi yang lebih baik di Jawa mendukung penurunan persentase kemiskinan, tetapi tidak cukup untuk mengatasi jumlah absolut yang besar.
Sebaliknya, Kalimantan memiliki populasi yang lebih kecil dan sumber daya alam yang melimpah, yang membantu menekan jumlah penduduk miskin.
Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur di wilayah perdesaan masih perlu diperhatikan untuk memastikan pemerataan kesejahteraan.


