731 total views
SRAGEN, INNINDONESIA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan untuk mendukung kesehatan dan gizi siswa di Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, berubah menjadi petaka.
Sebanyak 196 orang, termasuk siswa, guru, dan keluarga petugas sekolah (OB) dari tiga sekolah di wilayah tersebut, mengalami keracunan massal usai menyantap hidangan MBG pada Senin, 11 Agustus 2025.
Gejala yang dirasakan meliputi mual, muntah, diare, dan pusing, menyebabkan ratusan siswa tidak dapat mengikuti kegiatan belajar pada hari berikutnya.
Kejadian bermula ketika siswa, guru, dan petugas sekolah mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi kuning, telur ayam suwir, orek tempe, selada timun, apel, dan susu.
Makanan tersebut disediakan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mitra Mandiri Gemolong 1, yang berlokasi di Jalan Raya Gemolong–Sragen Km 2, Klentang 008, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen (Yayasan Masjid Miftahussalam Riftah).
Gejala keracunan mulai terdeteksi pada malam hari usai konsumsi, Senin (11/8/2025). Para korban melaporkan rasa mual, muntah, diare, dan pusing.
Hingga Selasa (12/8/2025), kondisi ini menyebabkan ratusan siswa tidak dapat masuk sekolah, mengganggu aktivitas belajar-mengajar di tiga sekolah yang terdampak.
Menanggapi insiden ini, Puskesmas Gemolong langsung bertindak cepat dengan mendirikan posko darurat untuk menangani para korban.
Kepala Puskesmas Gemolong, dr. Agus Pranoto Budi, menyatakan kepada awak media bahwa tim medis telah dikerahkan untuk memberikan perawatan segera kepada para korban.
Posko darurat ini menjadi pusat penanganan untuk memastikan kondisi korban dapat dipulihkan secepat mungkin.
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan massal masih dalam penyelidikan. Pihak berwenang, termasuk dinas kesehatan setempat, diperkirakan akan memeriksa proses penyediaan dan distribusi makanan dari dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong 1 untuk mengidentifikasi sumber masalah.
Dugaan awal mengarah pada kemungkinan adanya kontaminasi pada bahan makanan atau kesalahan dalam proses pengolahan.
Insiden ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keamanan pangan dalam program MBG yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi anak sekolah.
Masyarakat dan keluarga korban menuntut transparansi dan langkah tegas dari pihak terkait untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.


