693 total views
INN NEWS — Sedikitnya 100 warga Kristen dilaporkan tewas dan ratusan lainnya disandera dalam serangkaian serangan brutal yang terjadi di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) pada awal September 2025.
Serangan paling awal berlangsung pada 8 September di desa Ntoyo, North Kivu, ketika sekelompok warga menghadiri pemakaman. Sekitar 26 di antara mereka dibantai secara kejam oleh kelompok ekstremis, yang menggabungkan penembakan dan pembantaian dengan senjata tajam seperti golok.
Kelompok pelaku serangan diidentifikasi sebagai Allied Democratic Forces (ADF), sebuah kelompok Islam radikal yang dikaitkan dengan Negara Islam (ISIS). ADF diduga melakukan aksi kekerasan tak hanya di pemakaman tetapi juga menyerang komunitas lain selama dua hari berturut-turut.
Rev. Mbula Samaki melaporkan bahwa selain korban tewas, puluhan rumah, delapan sepeda motor, dan dua kendaraan dibakar oleh para pelaku. Korban tewas secara total di wilayah itu dilaporkan telah melebihi 70 orang dan lebih dari 100 warga Kristen ditawan.
Selain itu, di komunitas Petodu, para petani Kristen yang sedang berada di ladang atau dalam perjalanan pulang juga menjadi sasaran. Sebanyak 30 petani dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Akibat serangan ini, banyak warga terpaksa melarikan diri dari daerah terdampak. Gereja-gereja lokal berusaha menampung para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, terutama pada masa panen, ketika warga semestinya mengumpulkan padi.
Organisasi Open Doors menyerukan agar pemerintah DRC dan mitra internasional segera meningkatkan langkah perlindungan warga sipil di wilayah timur negeri tersebut, khususnya dari kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ADF.
Pembantaian kelompok Kristen yang terus terjadi seringkali luput dari perhatian masyarakat. Saat ini masyarakat Kristen menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kekerasan bahkan genosida.


