HomeOpiniTrump Gaza Plan: Antara Tuduhan Kolonialisme dan Jalan Keluar Gaza

Trump Gaza Plan: Antara Tuduhan Kolonialisme dan Jalan Keluar Gaza

Published on

spot_img

 661 total views

Di abad ke-21, kata “kolonialisme” masih terus digunakan sebagai senjata retoris. Setiap intervensi Barat segera dicurigai sebagai upaya dominasi baru. Itulah tuduhan yang kini diarahkan pada Trump Gaza Plan, sebuah gagasan rekonstruksi Gaza pascaperang dengan model pemerintahan transisi teknokratik, yang dipimpin oleh figur internasional. Kritikus menyebutnya wajah kolonialisme abad ke-21: pemerintahan boneka, eksploitasi ekonomi, dan ancaman kekerasan.

Tetapi apakah tuduhan itu akurat? Atau, lebih berbahaya lagi, apakah ia justru memperpanjang penderitaan rakyat Palestina dengan membiarkan ideologi kekerasan tetap bercokol di Gaza?

Sejarah kolonialisme klasik, entah oleh VOC atau imperium Eropa, jelas diarahkan pada akumulasi kekayaan permanen. Kolonialisme tidak pernah berangkat dari niat membangun, melainkan mengeksploitasi. Gaza hari ini berbeda. Tidak ada rempah atau emas yang membuatnya menarik secara ekonomi global. Masalah Gaza bukan sumber daya, melainkan ideologi—lebih tepatnya, ideologi Hamas yang menolak eksistensi Yahudi dan menjadikan kekerasan permanen sebagai raison d’être.

Mengutip Frantz Fanon atau Edward Said untuk menyerang Trump justru meleset sasaran. Fanon berbicara tentang perlawanan emansipatoris terhadap kolonialisme. Tetapi kekerasan Hamas bukanlah perlawanan emansipatoris; ia adalah kekerasan ideologis yang menolak perdamaian. Said mengkritik konstruksi Barat yang melemahkan Timur (orientalisme), tetapi Hamas sendiri yang terus mempertahankan citra Gaza sebagai tanah chaos demi memperoleh simpati internasional.
Achille Mbembe menulis tentang nekropolitik—politik hidup-mati—tetapi siapa yang lebih tepat menjalankan logika ini selain Hamas yang menjadikan rakyatnya perisai hidup?

Trump Gaza Plan memang keras. Ia menuntut de-militerisasi cepat, dan ya, ada nuansa pemaksaan. Tetapi di dunia politik realis, keamanan selalu menjadi prasyarat pembangunan. Gaza tidak mungkin bergerak ke arah kesejahteraan selama Hamas menjadikan perang sebagai identitas. Transisi teknokratik yang diusulkan Trump bukanlah kolonialisme permanen, melainkan politik pasca-ideologi—membuka ruang agar rakyat Gaza bisa keluar dari cengkeraman kelompok bersenjata.

Mereka yang menolak rencana ini dengan dalih anti-kolonial sebenarnya menawarkan apa? Status quo? Status quo berarti Gaza tetap dikendalikan Hamas, rakyat tetap miskin, dan perang tak pernah selesai. Ironisnya, retorika anti-kolonial yang dimaksudkan untuk membela Palestina justru membuat Palestina terus menderita.

Trump Gaza Plan bukan solusi sempurna, tetapi ia berani menyentuh akar masalah: Gaza tidak bisa merdeka di bawah ideologi kebencian. Dunia boleh sinis, tetapi tanpa terobosan politik yang berani, rakyat Gaza akan tetap hidup di bawah reruntuhan. Pertanyaannya bukan apakah rencana Trump adalah kolonialisme, tetapi apakah dunia berani melihat penderitaan rakyat Palestina tanpa terus-menerus menutupinya dengan slogan anti-kolonial yang kosong.

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.