2,201 total views
INNNEWS-Banjir bandang dan tanah longsor menghantam keras wilayah Tapanuli Raya, Sumatera Utara, sejak 22-25 November 2025. Hujan ekstrem tanpa henti menyebabkan sungai meluap, longsor di puluhan titik, serta aliran lumpur dan puing menghancurkan rumah, jembatan, dan jalan nasional. Wilayah Tapanuli Utara, Tengah, Selatan, hingga Sibolga porak-poranda.
Update okrban jiwa dan pengungsi per 27 November 2025 Data terkini menunjukkan korban meninggal dunia mencapai 19-24 orang, puluhan luka-luka, dan beberapa masih hilang. Di Tapanuli Selatan saja, setidaknya 8-15 tewas, 58 luka berat, serta lebih dari 5.000 warga mengungsi. Ribuan rumah rusak berat, dua jembatan utama putus, dan puluhan desa terisolasi total. Terputusnya komunikasi membuat banyak keluarga masih mencari anggota yang hilang kontak.
Di Tapanuli Utara dan Tengah, sekitar 50-100 rumah hancur, jalan nasional lumpuh, terutama di Kecamatan Simangumban akibat jembatan ambruk diterjang longsor. Listrik dan sinyal seluler mati total di banyak kawasan, sehingga evakuasi dan distribusi bantuan terhambat berat.
BMKG menyatakan bencana dipicu Bibit Siklon Tropis 95B di Selat Malaka dan Siklon Tropis KOTO, yang menyebabkan curah hujan ekstrem berhari-hari. Namun, warganet dan aktivis lingkungan ramai menyoroti kerusakan ekologis akibat penggundulan hutan masif di Sumut, termasuk aktivitas PT TPL, sebagai faktor pemicu utama longsor.
Saat ini, ribuan warga bertahan di tenda darurat dengan kondisi memprihatinkan. Mereka sangat membutuhkan makanan siap saji, air bersih, selimut dan pakaian, obat-obatan, tenda layak dan alat kebersihan.
Tim SAR, BPBD, dan Basarnas terus bekerja keras meski cuaca buruk dan akses sulit. Hujan lebat dipreksi masih berpotensi hingga awal Desember 2025. Kondisi ini tentu akan menjadi tantangan yang serius bagi rim rescue yang sedang berjuang dilapangan.
Masyarakat terus mengirimkan doa dan ucapaan melalui tagar #savesumut, #savetapanuli #prayforsumut #prayfortapanuliraya yang viral di media sosial.


