HomeOpiniPrabowo Membuang Kesempatan Emas Mengukir Sejarah Emas Indonesia

Prabowo Membuang Kesempatan Emas Mengukir Sejarah Emas Indonesia

Published on

spot_img

 409 total views

Pada Januari 2026, hantu otoritarianisme kembali bergentayangan dan menghantui demokrasi Indonesia. Ia tidak menyalak lewat kudeta terbuka, melainkan melalui cengkeraman politik yang kian rapi. Sejak dilantik, arah awal pemerintahan Prabowo memperlihatkan kecenderungan konsolidasi kekuasaan yang menempatkan stabilitas di atas kualitas, dan loyalitas di atas kompetensi.

Niccolò Machiavelli menulis, “It is much safer to be feared than loved.” Lebih aman untuk ditakuti daripada dicintai. Prinsip ini terasa hidup dalam pernyataan Prabowo yang berulang kali dikutip publik, “Saya tidak butuh orang pintar, saya butuh orang yang setia.” Kalimat ini bukan sekadar gaya bicara. Ia menemukan bentuk konkretnya dalam kebijakan awal pemerintahan.

Kabinet supergemuk dengan representasi hampir seluruh kekuatan politik adalah contoh paling jelas. Atas nama persatuan nasional, oposisi praktis ditiadakan. Konsolidasi ini memang menciptakan ketenangan jangka pendek, tetapi sekaligus mematikan fungsi kontrol. John Stuart Mill pernah mengingatkan, “Bad institutions are those which do not allow the truth to be told.” Ketika hampir semua pihak berada di dalam lingkar kekuasaan, kepada siapa kebenaran akan disuarakan.

Kebijakan Makan Bergizi Gratis yang menjadi program unggulan juga mencerminkan pola ini. Program tersebut ambisius dan populer, tetapi dikritik karena kesiapan fiskal, tata kelola, dan prioritas anggaran. Alih-alih membuka debat berbasis data, kritik kerap diperlakukan sebagai gangguan terhadap agenda besar. Demokrasi prosedural tetap berjalan, namun deliberasi substantif dipukul mundur oleh narasi loyalitas dan nasionalisme sempit.

Di sisi lain, perluasan peran aparat keamanan dalam ruang sipil melalui penugasan dan wacana revisi regulasi memperkuat kesan bahwa negara lebih nyaman mengandalkan disiplin komando daripada kapasitas institusional. Hannah Arendt menulis, “Power and violence are opposites; where one rules absolutely, the other is absent.” Ketika kekuasaan harus terus disokong oleh rasa takut, itu pertanda lemahnya kepercayaan pada sistem.

Padahal Prabowo berulang kali menyatakan ingin “membangun negara kuat” dan “mengukir sejarah besar bagi Indonesia.” Ia memiliki modal politik yang langka, legitimasi elektoral, dukungan parlemen, dan stabilitas awal. Kesempatan emas itu seharusnya digunakan untuk menegakkan meritokrasi, memperkuat institusi, dan membiarkan kritik bekerja sebagai vitamin demokrasi, bukan racun kekuasaan.

Indonesia tidak kekurangan pemimpin yang ingin ditakuti, tetapi selalu kekurangan pemimpin yang cukup kuat untuk tidak takut pada perbedaan, dan pertanyaannya kini, akankah kekuasaan yang dibangun di atas rasa takut mampu melahirkan sejarah emas yang benar-benar layak diwariskan kepada bangsa ini?

Artikel Terbaru

PDIP Solo Gelar Pengobatan Gratis dan Dapur Marhaen untuk Masyarakat SOLO

INNNEWS– Dalam upaya nyata membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan, DPC PDI Perjuangan (PDIP)...

Soal Polemik Saiful Mujaini, Pakar Politik NSL : Kekuasaan Tanpa Kehadiran Oposisi Menyimpan Bahaya Laten Yang Jauh Lebih Destruktif

INNNEWS- Sebelumnya, Saiful yang dikenal sebagai pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) itu meminta...

BOM DEMOGRAFI: Masalah Terbesar Kedua RI (Bg. 2) 75% Potensi dan 5 Tahun Sekolah Hilang

INNNEWS- Kalau masalah pertama adalah rapuhnya fondasi belajar, maka masalah kedua adalah akibat lanjutannya:...

Praktik Sains Pakai Senapan Rakitan, Siswa SMP di Siak Tewas

INNNEWS – Sebuah peristiwa tragis terjadi di Kabupaten Siak, Riau, ketika seorang siswa Sekolah Menengah...

artikel yang mirip

PDIP Solo Gelar Pengobatan Gratis dan Dapur Marhaen untuk Masyarakat SOLO

INNNEWS– Dalam upaya nyata membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan, DPC PDI Perjuangan (PDIP)...

Soal Polemik Saiful Mujaini, Pakar Politik NSL : Kekuasaan Tanpa Kehadiran Oposisi Menyimpan Bahaya Laten Yang Jauh Lebih Destruktif

INNNEWS- Sebelumnya, Saiful yang dikenal sebagai pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) itu meminta...

BOM DEMOGRAFI: Masalah Terbesar Kedua RI (Bg. 2) 75% Potensi dan 5 Tahun Sekolah Hilang

INNNEWS- Kalau masalah pertama adalah rapuhnya fondasi belajar, maka masalah kedua adalah akibat lanjutannya:...