301 total views
INNNEWS — Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran (major combat operations) terhadap Iran pada Sabtu pagi waktu setempat. Langkah ini menandai eskalasi paling tajam dalam hubungan kedua negara dalam hampir lima dekade terakhir.
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional dan diunggah melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa era “kesabaran strategis” telah berakhir dan digantikan dengan pendekatan tegas untuk menghancurkan ancaman yang dinilai membahayakan keamanan Amerika Serikat.
Trump menyebut ambisi nuklir Teheran sebagai “garis merah” yang tidak lagi dapat dinegosiasikan. Ia menyinggung operasi sebelumnya, “Midnight Hammer” pada Juni 2025, yang menargetkan fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Namun, menurutnya, operasi itu belum cukup menghentikan program tersebut secara permanen karena adanya upaya pembangunan kembali oleh Teheran. “Pesannya sangat sederhana: mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujarnya.
Selain isu nuklir, Trump mengungkit rekam jejak permusuhan selama 47 tahun, mulai dari krisis penyanderaan di Teheran pada 1979–1981, pengeboman barak Marinir di Beirut pada 1983, hingga tuduhan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Ia juga menyoroti korban warga Amerika dalam berbagai insiden yang dikaitkan dengan Teheran.
Dalam pidato itu, Trump menyampaikan ultimatum langsung kepada militer Iran, Garda Revolusi Islam (IRGC), dan aparat keamanan. Mereka diminta segera menyerah dan meletakkan senjata dengan janji perlakuan adil serta kekebalan, atau menghadapi “kematian yang pasti” dari operasi militer penuh Amerika Serikat. Pernyataan ini dinilai sebagai bagian dari tekanan psikologis untuk memecah loyalitas internal rezim.
Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil kendali atas masa depan mereka dan mengambil alih pemerintahan. Pernyataan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai dukungan terbuka terhadap perubahan rezim.
Pengumuman operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel ini memicu kekhawatiran global akan potensi perang regional serta dampaknya terhadap stabilitas energi dunia, terutama harga minyak. Komunitas internasional kini menanti respons resmi Teheran, sementara laporan awal menyebutkan serangan telah menargetkan situs rudal, pangkalan angkatan laut, dan instalasi strategis di Iran, termasuk ledakan di Teheran.


