110 total views
INNEWS – Di tengah gemuruh industri modern dan hiruk-pikuk perkotaan Solo Raya, terdapat sebuah desa kecil yang suaranya justru menggema hingga ke mancanegara. Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, kini dikenal luas sebagai sentra kerajinan gitar legendaris Indonesia. Dari tangan-tangan terampil para perajin lokal, kayu sederhana disulap menjadi alat musik berkualitas yang tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga menembus pasar internasional.
Desa Ngrombo bukan sekadar kampung biasa. Suara dentingan senar gitar dan aroma khas kayu mahoni menjadi bagian dari keseharian warganya. Hampir setiap rumah tangga di desa ini terlibat dalam rantai produksi gitar, mulai dari pemotongan kayu, pembentukan badan gitar, hingga finishing dan perakitan senar. Identitas desa sebagai “Kampung Gitar” begitu kuat, hingga hampir di setiap RT (Rukun Tetangga) terdapat bengkel-bengkel kecil yang sibuk memproduksi gitar akustik, klasik, elektrik, maupun bass.
Awal Mula dari Lahan Kosong Menjadi Sentra Industri
Sejarah Desa Ngrombo sebagai sentra gitar bermula pada tahun 1960-an. Saat itu, desa ini masih berupa lahan luas yang ditumbuhi pepohonan, jauh dari kesan industri. Nama “Ngrombo” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada suasana sepi atau “rombo” (kosong). Perubahan besar terjadi ketika tiga warga desa memutuskan untuk mengubah nasib. Mereka belajar merakit gitar di Solo, lalu membawa ilmu tersebut pulang.
Pionir utama yang paling dikenang adalah Mbah Arjo Parno. Ia dianggap sebagai pelopor yang tidak hanya membuat gitar, tetapi juga mewariskan keterampilan kepada generasi berikutnya. Awalnya, kerajinan ini dimulai dari Desa Mancasan yang berdekatan, kemudian menyebar ke Ngrombo dan bahkan hingga Desa Pondok di Kecamatan Grogol. Keahlian yang diturunkan secara turun-temurun ini membuat Desa Ngrombo berkembang pesat menjadi kampung gitar sejak era 1970-an. Saat ini, hampir 90 persen warga menggantungkan hidup dari industri ini.
Proses pembuatan gitar di Ngrombo masih banyak dilakukan secara manual dan teliti. Para perajin menggunakan bahan baku kayu berkualitas seperti mahoni, rosewood, atau maple yang bisa dipesan khusus. Setiap gitar melewati tahapan panjang: pemilihan kayu, pengeringan, pemotongan, pembentukan neck dan body, sanding, painting, hingga setting senar. Kualitasnya tak main-main—banyak gitar produksi Ngrombo yang diekspor ke berbagai negara, seperti Papua Nugini, Samoa, Yunani, Somalia, dan bahkan mencapai Eropa. Gitar-gitar ini sering dipuji karena suara yang hangat, finishing rapi, dan harga yang kompetitif.
Tantangan dan Ketahanan di Tengah Modernisasi
Meski telah mendunia, industri gitar Ngrombo tidak luput dari tantangan. Pandemi Covid-19 sempat menghantam keras permintaan pasar, menyebabkan banyak perajin merana. Harga gitar pun sempat “hancur” karena persaingan dan penurunan daya beli. Namun, semangat gotong royong dan kreativitas warga membuat desa ini bertahan. Paguyuban Gitar Ngrombo aktif berperan dalam menjaga kualitas dan mencari pasar baru.
Pemerintah daerah dan berbagai pihak juga mendukung transformasi Ngrombo menjadi Desa Wisata Kreatif. Pada 2021, Desa Ngrombo meraih juara I Lomba Desa Wisata kategori kreatif dalam BCA Desa Wisata Awards. Kini, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses produksi, mencoba merakit gitar sederhana, atau bahkan membeli gitar custom di lokasi. Delegasi G20 pernah mengunjungi desa ini pada 2022 untuk melihat proses kerajinan tangan yang autentik.
Modernisasi perlahan merambah. Beberapa perajin mulai mengadopsi alat-alat produksi yang lebih modern untuk meningkatkan efisiensi, meski proses inti masih mengandalkan keahlian tangan manusia. Potensi bahan baku yang mudah didapat, sumber daya manusia yang terampil, dan pangsa pasar yang luas menjadi kekuatan utama. Namun, fasilitas pendukung seperti infrastruktur dan manajemen terpadu masih perlu ditingkatkan agar industri ini semakin berdaya saing global.
Warisan Budaya yang Hidup
Bagi masyarakat Ngrombo, gitar bukan hanya barang dagangan. Ia adalah warisan budaya, sumber penghidupan, dan kebanggaan daerah. Suasana desa yang dulu sepi kini dipenuhi dentingan nada yang indah. Anak-anak muda pun banyak yang melanjutkan profesi orang tua mereka, meski sebagian juga mulai menggabungkan dengan wisata edukasi.
Desa Ngrombo membuktikan bahwa sebuah desa kecil di pedalaman
Jawa Tengah mampu bersaing di kancah internasional melalui ketekunan dan kreativitas. Dari lahan kosong menjadi ikon kerajinan Sukoharjo, perjalanan Ngrombo adalah kisah inspiratif tentang bagaimana tradisi bisa bertahan sekaligus beradaptasi dengan zaman.
Bagi pencinta musik atau wisatawan yang ingin merasakan denyut nadi industri kreatif asli Indonesia, Desa Ngrombo adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Di sini, setiap gitar bukan sekadar alat musik—ia adalah cerita perjuangan, keahlian turun-temurun, dan kebanggaan sebuah desa yang kini mendunia.


