33 total views
INNNEWS – Pemadaman listrik bergilir di sejumlah daerah kembali menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Di tengah aktivitas yang kian bergantung pada pasokan listrik stabil, gangguan ini memicu pertanyaan besar mengenai kesiapan infrastruktur energi nasional, khususnya terkait ketersediaan batu bara sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik.
Sorotan tajam tertuju pada inkonsistensi pernyataan pejabat pemerintah, khususnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta gaya komunikasi publik yang dianggap kurang transparan dan berempati. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia awalnya membantah bahwa pemadaman listrik disebabkan oleh kelangkaan pasokan batu bara, melainkan karena gangguan teknis pada pembangkit listrik.
Namun, Bahlil kemudian mengakui adanya kendala dalam pemenuhan pasokan batu bara kalori medium untuk PT PLN (Persero) akibat disparitas harga.Selain itu, Bahlil juga menyebut bahwa kualitas batu bara domestik cenderung menurun, yang menambah tantangan dalam memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Pemerintah sebelumnya telah memastikan bahwa pasokan komoditas batu bara untuk kebutuhan domestik tetap aman dan sesuai target.
Dalam menghadapi krisis listrik, gaya komunikasi pemerintah menjadi sorotan. Pernyataan yang berubah-ubah dari pejabat terkait cenderung mengurangi kepercayaan publik dan menimbulkan persepsi bahwa pemerintah tidak sepenuhnya transparan mengenai akar permasalahan. Alih-alih memberikan penjelasan yang komprehensif dan antisipasi solusi, masyarakat justru disuguhi bantahan di awal, yang kemudian diikuti dengan pengakuan adanya masalah pasokan.
Krisis seperti ini membutuhkan komunikasi yang empatik dan jelas, mengakui dampak pemadaman pada kehidupan sehari-hari masyarakat, serta memberikan informasi yang akurat dan konsisten. Kurangnya empati dan nurasi dalam komunikasi dapat memperburuk keresahan publik, terutama bagi mereka yang aktivitasnya sangat terganggu oleh pemadaman listrik.


