246 total views
INNNEWS – Baru-baru ini, sikap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja dengan DPD RI kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena substansi kebijakan, melainkan karena cara penyampaiannya yang dinilai terlalu santai dan cenderung bercanda saat membahas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menuai kontroversi besar.
Dalam rapat tersebut, beberapa senator DPD mendesak agar program MBG dievaluasi secara mendalam, bahkan dihentikan sementara, karena beban anggaran dan masalah tata kelola. Alih-alih memberikan penjelasan teknis yang komprehensif mengenai mitigasi defisit atau realokasi anggaran, Purbaya justru terlihat santai, tersenyum, dan menyarankan agar aspirasi tersebut disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo.
Video klip yang beredar luas di media sosial langsung memicu gelombang kritik. Banyak netizen dan pengamat menyebut sikap itu “tidak elok” untuk seorang Menteri Keuangan yang bertanggung jawab mengelola APBN ratusan triliun rupiah di tengah tekanan fiskal yang berat.
Sentimen Pasar yang Semakin “Ill Feel”
Pasar keuangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi sangat sensitif. IHSG kerap mengalami tekanan, nilai tukar rupiah cenderung melemah, dan investor asing terus memantau persepsi terhadap kredibilitas pengelolaan keuangan negara.
Purbaya sendiri kerap menyatakan bahwa lembaga rating seperti S&P Global lebih khawatir terhadap sentimen negatif di pasar ketimbang substansi program MBG. Ironisnya, sikap komunikasi pejabat tinggi yang terkesan kurang serius justru berpotensi memperburuk “ill feel” tersebut.
Pasar tidak hanya melihat angka, tapi juga kepercayaan dan keseriusan para pengelola negara. Ketika Menteri Keuangan tampak defensif dan mengalihkan tanggung jawab, sementara di lapangan muncul berbagai isu kebocoran anggaran MBG, investor semakin was-was.
Program MBG memang prioritas Presiden Prabowo. Anggarannya telah dipangkas dari rencana awal (hemat sekitar Rp67 triliun), namun tetap menyedot ratusan triliun rupiah. Di satu sisi pemerintah membantah program ini membebani APBN secara signifikan, di sisi lain pemangkasan anggaran sektor pendidikan, kesehatan, dan transfer ke daerah terus menuai keluhan publik. Ketidakjelasan komunikasi hanya mempertebal persepsi bahwa prioritas pemerintah belum selaras dengan realitas fiskal.
Komunikasi Fiskal yang Dibutuhkan Pasar
Di era transparansi saat ini, seorang Menteri Keuangan dituntut lebih dari sekadar mengelola angka. Ia harus mampu menenangkan pasar melalui komunikasi yang tegas, empati, dan berbasis data.
Sikap santai boleh saja sebagai personal branding, tetapi dalam rapat resmi membahas program kontroversial bernilai ratusan triliun di tengah demo mahasiswa dan protes DPR/DPD, nada bercanda justru berisiko dianggap tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat dan investor.
Banyak kalangan menilai sikap Purbaya kali ini kontraproduktif. Alih-alih meredam kekhawatiran, respons tersebut justru memperkuat narasi bahwa pemerintah kurang peka terhadap risiko pemborosan dan mismanagement. Akibatnya, “ill feel” di pasar semakin kuat — rupiah tertekan, IHSG volatile, dan kepercayaan investor goyah.
Penutup: Seriuskan Komunikasi, Jaga Kepercayaan
Purbaya Yudhi Sadewa bukan menteri pertama yang dikritik gayanya. Namun di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang berat, sikap “tidak elok” seperti ini sebaiknya segera dibenahi.
Pasar membutuhkan kepastian, bukan hiburan. Pemerintah perlu lebih terbuka soal penyesuaian program MBG, langkah efisiensi nyata, serta prioritas anggaran yang jelas dan terukur.
Jika sentimen negatif terus dibiarkan, “ill feel” yang dirasakan pasar hari ini bisa berubah menjadi “ill perform” besok. Dan itu bukan hanya soal citra satu menteri, melainkan kesehatan ekonomi nasional secara keseluruhan.
—
*Redaksi INNIndonesia.com* mengajak pembaca untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan fiskal pemerintah. Opini di atas merupakan analisis independen dan tidak mewakili sikap redaksi.


