18 total views
INNNEWS – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menekankan bahwa keselamatan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan anak harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pengungsian korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pernyataan itu disampaikan menyusul meninggalnya seorang balita di lokasi pengungsian Kabupaten Nagekeo. “Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang balita di pengungsian Kabupaten Nagekeo. Kami turut prihatin atas kejadian ini,” ujar Arifah dalam keterangan resmi, Senin (24/8/2026).
Menurut data yang diterima KemenPPPA, balita tersebut berasal dari Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, dan berada di Posko Pura Desa Tonggurambang. Sehari sebelum kejadian, UPTD PPA Kabupaten Nagekeo telah melakukan kunjungan dan memberikan bantuan, serta tersedia pelayanan kesehatan di lokasi.
Anak Kelompok Rentan di Situasi Bencana
Arifah menegaskan bahwa dalam situasi bencana, anak—terutama bayi dan balita—merupakan kelompok paling rentan. Mereka memiliki kebutuhan khusus yang harus diperhatikan secara serius.
“Keselamatan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan anak harus menjadi perhatian dan prioritas bersama,” katanya.
Beberapa aspek yang perlu dijamin meliputi:
- Tempat tinggal yang layak dan perlindungan dari cuaca ekstrem
- Akses air bersih dan sanitasi
- Makanan bergizi
- Pakaian dan selimut
- Layanan kesehatan yang cepat dan berkelanjutan
- Ruang aman serta dukungan psikososial
KemenPPPA juga mendorong penguatan perlindungan anak di lokasi pengungsian untuk mencegah risiko kekerasan, eksploitasi, dan penelantaran.
Pendataan Terpilah dan Respons Cepat
Dalam rapat koordinasi sebelumnya dengan dinas PPPA provinsi dan tujuh kabupaten terdampak, Menteri PPPA menekankan pentingnya pendataan pengungsi secara terpilah (berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kebutuhan khusus). Langkah ini diperlukan agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran.
Data per 18 Agustus 2026 menunjukkan bahwa dari 70 orang meninggal dunia akibat gempa, sebanyak 14 anak dan 34 perempuan dewasa, atau sekitar 68,6 persen, merupakan anak dan perempuan.
KemenPPPA telah menyalurkan bantuan seberat 46,6 ton kepada BNPB yang khusus diperuntukkan bagi perempuan dan anak. Bantuan tersebut mencakup nutrisi balita, perlengkapan sanitasi dan higiene, pakaian, selimut, serta buku edukasi psikososial.
Arifah mengapresiasi seluruh pihak yang telah memastikan kebutuhan spesifik perempuan dan anak menjadi bagian dari respons darurat. Ia mengingatkan bahwa perlindungan perempuan dan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, baik di tahap tanggap darurat maupun pemulihan.


