20 total views
INNNEWS— Banjir bandang dahsyat yang dipicu runtuhnya gletser melanda kawasan perbatasan Nepal-Tibet (China) pada Rabu (26/8/2026). Bencana ini menewaskan ratusan orang dan menyebabkan lebih dari 1.300 orang dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan Himalaya.
Menurut data otoritas bencana Nepal dan USGS (United States Geological Survey), banjir bandang tersebut dipicu oleh glacial collapse atau runtuhnya danau es di kawasan pegunungan. Material lumpur, batu, dan air dalam volume besar menerjang desa-desa serta jalur pendakian di wilayah perbatasan.
Di sisi Nepal, setidaknya 165 hingga hampir 400 jenazah telah ditemukan, sementara ratusan wisatawan asing dan warga lokal masih hilang. Australia melaporkan 34–39 warganya belum ditemukan, sementara Korea Selatan mengirim tim respons cepat untuk mencari sembilan warganya. Di sisi Tibet (China), korban juga dilaporkan meski angka pastinya masih terus diperbarui.
Rekaman drone menunjukkan kerusakan parah: jalan dan jembatan hancur, bangunan tertimbun lumpur tebal, serta desa-desa yang hampir rata dengan tanah. Upaya pencarian dan penyelamatan terhambat oleh hujan, material lumpur yang tebal, serta medan yang sulit dijangkau.
Tim penyelamat dari kedua negara telah dikerahkan. China mengirim ratusan personel ke pelabuhan perbatasan Gyirong, sementara Nepal terus melakukan pencarian di wilayah terdampak. Beberapa negara, termasuk Australia dan Korea Selatan, menawarkan bantuan kemanusiaan dan dukungan teknis.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan belasungkawa mendalam kepada pemerintah dan rakyat Nepal serta China. Kemlu RI juga masih mendata warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan Himalaya, khususnya para pendaki, untuk memastikan keselamatan mereka.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa pencairan es di Himalaya akibat perubahan iklim semakin meningkatkan risiko bencana serupa di masa depan. Banjir bandang ini menjadi salah satu bencana alam terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Hingga Jumat (28/8/2026), operasi pencarian masih terus berlangsung. Harapan untuk menemukan korban selamat semakin menipis seiring berjalannya waktu, sementara risiko banjir susulan masih mengancam.


