20 total views
INNNEWS— Ketegangan internal di Keraton Kasunanan Surakarta kembali memanas. Dua kubu yang mengklaim sebagai penerus tahta saling melaporkan satu sama lain ke Polresta Surakarta terkait dugaan pencurian tiga set gamelan pusaka Sekaten dan penganiayaan abdi dalem.
Kasatreskrim Polresta Solo Kompol Derry Eko Setiawan mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima dua laporan berbeda dari kedua belah pihak, yakni kubu Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIV Purboyo dan kubu PB XIV Hangabehi.
“Benar kami sudah menerima aduan terkait kasus pencurian dan penganiayaan. Saat ini penyidik sedang mendalami kedua laporan tersebut untuk menentukan kelanjutan proses hukum,” ujar Derry di Mapolresta Solo, Kamis (27/8/2026).
Laporan pertama dilayangkan oleh abdi dalem dari kubu Hangabehi atas dugaan pengeroyokan yang terjadi saat kegiatan Miyos Gongso. Sementara itu, kubu Purboyo melaporkan dugaan pencurian atau penguasaan sepihak terhadap gamelan pusaka yang seharusnya digunakan dalam perhelatan Sekaten.
Konflik ini menambah panjang deretan sengketa internal Keraton Solo yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, terutama terkait legitimasi kepemimpinan dan pengelolaan aset budaya.
Sementara itu, di tengah polemik tersebut, Pemkot Solo dan Kementerian Kebudayaan terus mendorong revitalisasi kawasan Keraton, termasuk Museum Keraton Solo, agar tetap menjadi destinasi budaya berstandar internasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebelumnya menegaskan bahwa pemugaran tetap berjalan meskipun ada konflik internal, dan meminta penyelesaian dilakukan secara musyawarah.
Di sisi lain, warga Solo masih menikmati sisa perhelatan Sekaten 2026, meski sempat diwarnai keluhan menumpuknya sampah di Alun-Alun Selatan akibat keterlambatan pengangkutan oleh Dinas Lingkungan Hidup.
Polresta Solo mengimbau seluruh pihak agar menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut. Proses hukum akan dilanjutkan secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku.


