155 total views
INNNEWS — Di tengah maraknya proyek pendidikan berbiaya miliar hingga triliunan rupiah yang dibiayai APBN, sebuah gerakan kecil namun bermakna dibuka di Saparua, Maluku Tengah. Rumah Belajar Pancasila (RBP) Saparua resmi beroperasi dengan semangat gotong royong murni masyarakat, tanpa menggantungkan diri pada anggaran negara yang kerap bermasalah.
Foto bersama anak-anak dan orang dewasa di depan spanduk RBP Saparua Maluku Tengah menunjukkan antusiasme warga. Mereka mengangkat tangan, tersenyum, dan berdiri di ruang sederhana yang dipenuhi kursi plastik berwarna-warni. Tidak ada bangunan mewah, tidak ada peralatan mahal, hanya semangat kolektif untuk mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Pancasila.
Gotong Royong vs Proyek Besar yang Gagal
RBP Saparua hadir sebagai antitesa dari sejumlah proyek pendidikan pemerintah yang menghabiskan anggaran raksasa namun hasilnya justru memprihatinkan. Salah satu contoh paling mencolok adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan anak sekolah, tetapi di berbagai daerah justru berujung keracunan massal. Ribuan siswa menjadi korban, sementara anggaran yang dikucurkan mencapai triliunan rupiah.
“Kami tidak menunggu anggaran miliar. Kami bangun sendiri, bersama-sama. Yang penting anak-anak bisa belajar nilai-nilai kebangsaan, bukan sekadar formalitas proyek,” ujar salah satu penggerak RBP Saparua saat pembukaan.
Berbeda dengan proyek-proyek berbasis APBN yang seringkali lebih mengutamakan seremoni, pengadaan barang, dan laporan administratif, RBP mengandalkan partisipasi warga. Orang tua, tokoh masyarakat, guru relawan, dan pemuda lokal bergotong royong menyediakan tempat, mengajar, serta menjaga keberlangsungan kegiatan. Tidak ada tender, tidak ada markup, tidak ada laporan yang “diakali”.
Fokus pada Karakter, Bukan Sekadar Anggaran
Rumah Belajar Pancasila di Saparua menekankan pembentukan karakter dan pemahaman Pancasila secara praktis. Anak-anak tidak hanya diajari teori, tetapi diajak mengalami nilai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan dalam kegiatan sehari-hari. Pendekatan ini dinilai lebih relevan di tengah semakin kuatnya individualisme dan melemahnya kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda.
Para penggerak RBP menilai, banyak proyek pendidikan nasional yang gagal karena terlalu mengandalkan uang dan birokrasi. “Kalau hanya mengandalkan anggaran besar tanpa kesadaran bersama, hasilnya bisa seperti MBG: niatnya baik, tapi pelaksanaannya merugikan anak-anak. Kami pilih jalan gotong royong,” tegas salah seorang relawan.
Harapan ke Depan
Pembukaan RBP Saparua diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Maluku dan Indonesia. Gerakan semacam ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan anggaran raksasa. Yang lebih penting adalah komitmen warga untuk membangun sendiri masa depan anak-anak mereka.
Di tengah kritik terhadap berbagai program pendidikan yang memakan anggaran negara namun berujung masalah, RBP Saparua muncul sebagai pengingat sederhana: pendidikan terbaik seringkali lahir dari kerja bersama, bukan dari proyek yang sekadar menghabiskan uang rakyat.


