17 total views
Lisbon–Milan–Paris, 19 Oktober 2026 — Gelombang protes massal yang dipicu oleh kenaikan biaya hidup, krisis perumahan, dan kondisi pendidikan buruk telah menyebar ke sejumlah negara Eropa akhir pekan lalu. Prancis menjadi pusat kerusuhan terbesar, sementara aksi serupa dengan intensitas berbeda terjadi di Italia, Belgia, Portugal, dan Albania.
Menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang turun ke jalan di lebih dari 100 lokasi pada Sabtu (17/10). Serikat pekerja CGT memperkirakan jumlahnya mencapai 800.000. Demonstrasi yang semula dipimpin siswa SMA atas kondisi sekolah yang buruk berubah menjadi aksi yang lebih luas menentang biaya hidup tinggi dan layanan publik yang menurun.
Sebagian besar unjuk rasa berlangsung damai. Namun, kelompok-kelompok radikal memanfaatkan situasi. Balai kota bersejarah di Limoges dibakar hingga atapnya runtuh. Di Marseille, demonstran memasuki balai kota dan mencoret-coret dinding. Kantor pariwisata di Lyon turut dibakar. Penjarahan toko mewah dan supermarket terjadi di Paris, Bordeaux, Nice, dan sejumlah kota lain.
Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut kekerasan itu “tidak dapat diterima”. Hingga Minggu (18/10), jumlah orang yang ditangkap mencapai 1.800 hingga lebih dari 2.000 orang. Lebih dari 500 polisi, gendarmerie, dan petugas pemadam kebakaran mengalami cedera. Satu demonstran meninggal dunia karena serangan jantung di Paris.
Aksi Meluas ke Negara Lain
Di Italia, aksi di Milan yang awalnya damai berubah kekerasan. Demonstran bertopeng melempari polisi dengan batu dan paving block, serta membakar barikade dari meja kafe di sekitar Piazza Duomo. Polisi menembakkan gas air mata dan water cannon. Perdana Menteri Giorgia Meloni mengecam “hooligan yang memanfaatkan demonstrasi untuk menyebarkan kekacauan”.
Di Belgia, protes siswa terkait biaya registrasi universitas digabung dengan tuntutan biaya hidup. Di Brussels dan Liège, terjadi bentrokan. Polisi kembali menggunakan gas air mata dan water cannon setelah demonstran melempar benda dan menyalakan api.
Portugal mencatat aksi yang relatif lebih damai. Puluhan ribu orang berdemonstrasi di Lisbon menuntut solusi atas krisis perumahan. Harga rumah di Portugal telah berlipat ganda sejak 2017. Sejumlah demonstran mendirikan perkemahan tenda di pusat kota.
Sementara itu, di Albania, protes siswa anti-pemerintah memasuki hari kelima dan keenam. Mereka menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama dengan alasan biaya kuliah tinggi, kondisi kampus buruk, korupsi, dan kurangnya lapangan kerja. Bentrokan intens terjadi di Tirana. Demonstran melempar batu, molotov, dan memblokade jalan dengan tong sampah yang dibakar. Polisi merespons dengan gas air mata, water cannon, dan laporan penggunaan peluru karet.
Jerman dan Inggris Tidak Ikut Gelombang yang Sama
Berbeda dengan negara-negara tersebut, Jerman dan Inggris tidak mengalami kerusuhan massal terkait biaya hidup pada akhir pekan yang sama. Di Jerman, aksi yang tercatat lebih banyak berfokus pada penolakan terhadap partai sayap kanan AfD serta protes serikat pekerja sebelumnya. Di Inggris, terdapat sejumlah demonstrasi terpisah terkait isu mahasiswa dan aksi pro-Palestina, namun tidak dalam skala dan karakter yang sama.
Para pengamat menilai gelombang ini tidak terkoordinasi secara formal, tetapi memiliki benang merah yang sama: tekanan ekonomi yang dirasakan generasi muda, terutama siswa dan mahasiswa, serta rasa frustrasi terhadap respons pemerintah.
Hingga Senin (19/10), situasi di Prancis masih dalam pengawasan ketat. Presiden Emmanuel Macron menyatakan pelaku kekerasan akan ditindak tegas. Pemerintah beberapa negara lain juga meningkatkan kesiagaan menjelang kemungkinan aksi lanjutan.
Gelombang protes ini menambah tekanan politik di Eropa yang akan menghadapi rangkaian pemilihan nasional dalam 12 bulan ke depan.


