HomeOpiniINDONESIA IN DENIAL 25 Tahun Berlalu, Kita Masih Sulit Membaca Realitas

INDONESIA IN DENIAL 25 Tahun Berlalu, Kita Masih Sulit Membaca Realitas

Published on

spot_img

 10 total views

 

Elwin Tobing | California, AS

Sekitar 25 tahun lalu, saya mengembangkan The Prospect, mungkin salah satu blog pertama di Indonesia yang menyajikan analisis tentang persoalan dan masa depan bangsa. Salah satu rubriknya, Daily Prospect, terinspirasi oleh The Daily Dish dari Andrew Sullivan, pelopor blog politik yang kemudian menjadi salah satu suara berpengaruh dalam opini publik Amerika Serikat.

Mengapa saya memulainya?

Indonesia ketika itu masih bergulat dengan dampak krisis moneter 1998. Ekonomi belum pulih sepenuhnya. Ketidakpastian politik dan konflik sosial terus berlangsung, termasuk di Poso dan Maluku. Bahkan, pengamat politik senior Jusuf Wanandi sempat menulis artikel berjudul Indonesia: A Failed State?

Saya mencoba memahami mengapa Indonesia begitu sulit keluar dari krisis dan membangun kemajuan yang berkelanjutan.

ALL IN THE MIND

Kesimpulan saya waktu itu: salah satu persoalan mendasarnya terletak pada cara berpikir, atau mindset.

Dan di balik lemahnya cara berpikir itu terdapat persoalan yang lebih mendasar: rendahnya kualitas literasi, yang berkaitan erat dengan lemahnya budaya membaca dan belajar.

Hasil PISA pertama memperkuat kekhawatiran saya. Dalam hasil PISA 2000 yang diperluas dengan peserta tambahan, Indonesia berada di peringkat 39 dari 41 negara dalam membaca, peringkat 39 dalam matematika, dan peringkat 38 dalam sains. Sekitar 80% murid kita tidak memahami apa yang mereka baca.

Memang, PISA mengukur kemampuan murid usia 15 tahun. Namun, lemahnya kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya menjadikan hasilnya peringatan serius tentang kapasitas intelektual generasi penerus, termasuk calon pemimpin dan pengambil keputusan.

Bagaimana kita dapat membangun negara maju jika kemampuan membaca, memahami persoalan, dan berpikir kritis masih begitu lemah?

Pembangunan bukan sekadar persoalan modal, infrastruktur, teknologi, atau kebijakan. Semuanya penting. Tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas manusia yang merancang, melaksanakan, dan merespons pembangunan tersebut.

Saya masih ingat tulisan Bill Guerin, jurnalis Asia Times waktu itu, yang mengirimkan kontribusi tulisannya ke Daily Prospect, berjudul All in the Mind. Pesannya sederhana: perubahan kehidupan sosial bermula dari perubahan cara berpikir.

Pada 2002, saya kemudian mengembangkan gagasan Mindset Enhancing Campaign (MEC), sebuah gerakan untuk memperkaya cara berpikir dan daya nalar melalui sekolah, kampus, dan ruang publik. Sayangnya, gagasan itu belum berkembang karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Ketika itu saya sedang menjalani masa penting pendidikan doktoral ekonomi di Amerika Serikat.

25 TAHUN, PERSOALAN TETAP SAMA

Dua puluh lima tahun berlalu. Apa yang berubah?

Indonesia tentu telah mengalami banyak kemajuan. Ekonomi tumbuh, infrastruktur berkembang, dan teknologi mengubah kehidupan masyarakat. Namun, persoalan mendasar yang saya khawatirkan seperempat abad lalu masih terasa kuat hingga sekarang.

Mindset masih menjadi salah satu penghambat besar kemajuan Indonesia.

Cara berpikir yang menggampangkan persoalan rumit. Merasa tahu tanpa sungguh-sungguh memahami. Lebih percaya pada keyakinan sendiri daripada bukti.

Yang defensif terhadap kritik, enggan belajar dari kesalahan, dan lebih sibuk mencari pembenaran daripada memperbaiki keadaan.

Yang mengutamakan formalitas daripada substansi, loyalitas daripada kapabilitas, serta pencitraan daripada hasil nyata.

Dan yang paling mengkhawatirkan: cara berpikir yang menolak kenyataan—in denial.

Bukan karena kenyataan tidak terlihat, tetapi karena kita tidak mau, atau tidak mampu, membacanya dengan jernih.

Mengapa persoalan ini terus berulang?

Menurut saya, salah satu akar masalahnya masih sama: kualitas literasi yang sangat lemah.

Lihat kembali hasil PISA. Pada 2025, sekitar 75% murid Indonesia usia 15 tahun belum mencapai tingkat minimum kecakapan membaca. Bisa membaca tetapi tidak memahami apa yang dibacanya. Hampir tidak ada yang mencapai tingkat literasi tertinggi.

Skor membaca Indonesia bahkan turun dari 371 pada 2000 menjadi 365 pada 2025. Lebih dari dua dekade berlalu, krisis literasi belum juga berhasil kita atasi. Bahkan secara relatif, lebih buruk.

Tentu, rendahnya literasi bukan satu-satunya penyebab persoalan Indonesia. Kualitas institusi, tata kelola, insentif politik, dan struktur ekonomi juga sangat menentukan. Namun, berbagai kelemahan tersebut dapat diperparah oleh rendahnya kemampuan memahami informasi, menilai bukti, dan berpikir kritis.

Kita sering memperdebatkan solusi sebelum memahami persoalannya. Mengumumkan keberhasilan tanpa menguji hasilnya. Membela kebijakan tanpa sungguh-sungguh mengevaluasi dampaknya.

Padahal, pemecahan masalah selalu dimulai dari kemampuan mengenali masalah secara tepat.

Kita tidak dapat memperbaiki sesuatu yang tidak kita pahami. Lebih sulit lagi jika kita justru menyangkal kenyataan yang ada.

DARI DIAGNOSIS KE TRANSFORMASI

Dua puluh lima tahun lalu, saya mencoba menjawab tantangan ini melalui MEC. Kini, melalui Literacy for the Future (LIFT), saya kembali pada persoalan yang sama dengan pendekatan yang lebih konkret.

Melalui buku cerita, kegiatan membaca, keterlibatan sekolah dan keluarga, serta penguatan berpikir kritis dan karakter, LIFT berupaya membangun budaya membaca dan belajar sejak sekolah dasar.

Dalam kurang dari satu tahun terakhir, inisiatif ini telah menjangkau lebih dari 20.000 murid, terutama di Jakarta. Ini baru langkah awal. Membangun budaya membaca dan berpikir memerlukan waktu, konsistensi, dan keterlibatan banyak pihak.

Tetapi kita harus menyadari satu hal: krisis literasi bukan hanya persoalan anak sekolah. Ini persoalan bangsa, di seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pemimpin dan pembuat kebijakan.

Lalu, dari mana kita harus mulai? Mari kembali membaca. Kita belum beres persoalan paling mendasar.

Bukan sekadar mengikuti gosip media sosial atau menggulir TikTok tanpa henti. Tetapi membaca buku bermutu, tulisan yang menggugah pikiran, dan analisis yang menantang keyakinan kita sendiri.

Membaca untuk memahami, bukan sekadar mencari pembenaran. Belajar menerima kritik, memeriksa fakta, dan melihat persoalan dari berbagai sudut.

Karena bangsa yang tidak mampu membaca realitas akan terus kesulitan memperbaiki realitasnya. Indonesia tidak kekurangan persoalan untuk diselesaikan. Tetapi kita harus berhenti menyangkalnya.

Indonesia cannot afford to remain in denial.

(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains peserta didik Indonesia).

Artikel Terbaru

Antara Legalitas dan Legitimasi: Menguji Narasi Intervensi Kekuasaan melalui Fakta Hukum dan Etika Publik

Narasi mengenai intervensi kekuasaan dalam pemerintahan Joko Widodo selama ini kerap dipandang sebagai ekspresi...

Gelombang Protes dan Kerusuhan Melanda Eropa: Prancis Jadi Episentrum, Meluas ke Italia, Belgia, Portugal, dan Albania

Lisbon–Milan–Paris, 19 Oktober 2026 — Gelombang protes massal yang dipicu oleh kenaikan biaya hidup,...

IHSG Anjlok Lagi di Awal Pekan, BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen Imbas Ancaman MSCI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali diguncang tekanan berat pada perdagangan Senin...

“Skandal BYAN”: Haji Isam, Bank Mandiri, dan Pertanyaan Besar di Balik Transaksi Rp26 Triliun

INNNEWS - Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks pasar saham global yang menjadi...

artikel yang mirip

Antara Legalitas dan Legitimasi: Menguji Narasi Intervensi Kekuasaan melalui Fakta Hukum dan Etika Publik

Narasi mengenai intervensi kekuasaan dalam pemerintahan Joko Widodo selama ini kerap dipandang sebagai ekspresi...

Gelombang Protes dan Kerusuhan Melanda Eropa: Prancis Jadi Episentrum, Meluas ke Italia, Belgia, Portugal, dan Albania

Lisbon–Milan–Paris, 19 Oktober 2026 — Gelombang protes massal yang dipicu oleh kenaikan biaya hidup,...

IHSG Anjlok Lagi di Awal Pekan, BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen Imbas Ancaman MSCI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali diguncang tekanan berat pada perdagangan Senin...