1,246 total views
SOLO, INN INDONESIA – Halo..halo..malam Minggu kaya gini mau nongkrong di mana lur (saudara)? Nah pasti ada banyak tempat yang sudah menjadi rekomendasi tersendiri untuk bermalam Minggu kan.
Kalau di Kota Solo, Yogya dan sekitarnya, tidak hanya mall, kafe, taman, atau alun-alun yang menjadi rekomendasi bermalam Minggu, ada juga nih angkringan atau wedangan yang ramai banget didatangin.
Selain jajanannya murah dan sangat terjangkau, angkringan atau wedangan juga punya ciri khas tersendiri.
Tapi banyak ni yang masih bingung soal penyebutan angkringan, HIK, atau wedangan.
Nah, apa sih sebenarnya perbedaan diantara ketiganya? Sudah pernah cari tahu belum? Atau malah sudah tahu?
Ternyata, baik angkringan, HIK, atau wedangan itu sebenarnya punya substansi dan konsep yang sama hanya saja penyebutannya yang kemudian berubah dan identik dengan daerah Solo dan Yogya.
Angkringan identik dan lebih sering digunakan oleh orang Yogya. HIK atau wedangan sudah melekat dan identik dengan Kota Solo karena lebih sering digunakan oleh orang Solo.
Pada dasarnya baik itu angkringan, HIK, maupun wedangan lebih kepada masalah penyebutan dan kebiasaan sehingga terbentuklah identitas di mana angkringan identik dengan Yogya dan HIK/wedangan identik dengan Solo.
Secara bentuk dan fisik hingga jenis jajanan bisa dikatakan sama. Namun mengapa namanya bisa berbeda?
- Angkringan, HIK, atau wedangan pada awalnya semua disebut dengan HIK atau Hidangan Istimewa Kampung.
- Kata HIK sendiri sebenarnya muncul dari bentuk promosi yang dilakukan oleh pedagang. Saat ider mereka memikul dagangannya sambil berteriak “Hiiik… iyeeek” atau “Ting… ting… hik”. Dari situlah kata HIK menjadi lekatakan dagangan sego (nasi) kucing ini.
- Pada awalnya, adanya HIK ini dibawa oleh orang-orang Klaten yang mengadu nasib ke Kota Yogya dan Kota Solo.
- Mbah Pairo, warga Cawas, Klaten merupakan orang pertama yang memperkenalkan HIK ke Kota Jogja sekitar tahun 1950. Sedangkan di Kota Solo lebih banyak dikenalkan oleh warga Bayat, Klaten.
- Pada awal perkembangannya, baik angkringan maupun HIK menawarkan jajanan sambil memikul dagangannya dari kampung ke kampung. Seiring berjalannya waktu, dagangan dijajakan menggunakan gerobak kayu yang ditutupi dengan kain terpal seperti yang saat ini kerap kita temui.
Penyebutan HIK yang kemudian terjadi perubahan sebenarnya disebabkan oleh kebiasaan masyarakat itu sendiri.
HIK di Jogja lebih dikenal dengan istilah angkringan karena kegemaran masyarakat yang duduk methangkring sikile (mengangkat salah satu kakinya di bangku) saat berkumpul untuk makan dan ngobrol santai.
Dari kebiasaan methangkring kemudian menjadi sebutan angkringan.
Berbeda dengan di Jogja yang kemudian berubah menjadi angkringan, di Kota Solo HIK sudah melekat dan identik karena lebih sering digunakan oleh orang Solo.
Namun terkadang beberapa juga menyebutnya dengan wedangan karena banyaknya jenis minuman yang ditawarkan.
Sehingga ketika di Kota Solo jangan bingung dengan kata HiK atau wedangan karena keduanya menyebut hal yang sama.
(Sumber: Pemkot Solo)


