HomeGaya HidupKenapa Harga Tiket Luar Negeri Lebih Murah dari Domestik?

Kenapa Harga Tiket Luar Negeri Lebih Murah dari Domestik?

Published on

spot_img

 2,110 total views

INN NEWS – Selalu menjadi pertanyaan masyarakat Indonesia, kenapa harga tiket pesawat domestik sangat mahal, sedangkan tiket luar negeri malau lebih murah?

Masalah ini bahkan belum ada jalan keluar.

Nah, Menteri Perhubungan era Presiden Joko Widodo, Budi Karya Sumadi membeberkan 4 tantangan industri penerbangan saat ini yang memengaruhi harga tiket.

Pertama adalah jumlah pesawat yang terbatas, suku cadang terbatas, harga avtur yang mahal, dan tingginya kurs dolar AS terhadap rupiah.

Hal itu yang membuat harga tiket pesawat  mahal, kata  Budi dalam acara INACA Festival 2023 di Park Hyatt, Jakarta, Kamis (2/11/2023).

“Kita tahu bahwa dolar AS, avtur, suku cadang, dan jumlah pesawat merupakan hambatan-hambatan untuk industri penerbangan,” ucapnya.

Tak cuma itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dugaan monopoli avtur yang menyebabkan harga tiket pesawat domestik melambung tinggi. Akibatnya, provider lain atau perusahaan lain sulit untuk menjual avtur di Tanah Air.

Bahkan, Ia pun menuding BPH Migas melindungi Pertamina soal dugaan monopoli avtur di bandara.

Persoalan ini pun telah dibahas bersama dengan Menko Marves era Jokowi, Luhut Binsar Pandjaitan.

“Harga monopoli itu saya buka, dilindungi oleh BPH Migas. Tolong ditulis gede-gede. Besok datang ke BPH Migas, tanya sama mereka. Saya sudah soft, sudah rapat dengan Pak Luhut, tidak dilaksanakan,” tuturnya dalam konferensi pers Capaian Kinerja Sektor Transportasi selama 10 Tahun, di Jakarta, Selasa (1/10/2024).

Monopoli penjualan avtur, kata Budi, membuat harga tiket pesawat dalam negeri lebih tinggi ketimbang penerbangan ke beberapa bandara di luar negeri, utamanya di kawasan Asia Tenggara.

 

Artikel Terbaru

INDONESIA IN DENIAL 25 Tahun Berlalu, Kita Masih Sulit Membaca Realitas

Dua puluh lima tahun berlalu, krisis literasi Indonesia masih menjadi tantangan besar. Elwin Tobing mengulas bagaimana lemahnya budaya membaca dan berpikir kritis memengaruhi kemajuan bangsa, serta pentingnya transformasi literasi untuk masa depan Indonesia.

Antara Legalitas dan Legitimasi: Menguji Narasi Intervensi Kekuasaan melalui Fakta Hukum dan Etika Publik

Narasi mengenai intervensi kekuasaan dalam pemerintahan Joko Widodo selama ini kerap dipandang sebagai ekspresi...

Gelombang Protes dan Kerusuhan Melanda Eropa: Prancis Jadi Episentrum, Meluas ke Italia, Belgia, Portugal, dan Albania

Lisbon–Milan–Paris, 19 Oktober 2026 — Gelombang protes massal yang dipicu oleh kenaikan biaya hidup,...

IHSG Anjlok Lagi di Awal Pekan, BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen Imbas Ancaman MSCI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali diguncang tekanan berat pada perdagangan Senin...

artikel yang mirip

INDONESIA IN DENIAL 25 Tahun Berlalu, Kita Masih Sulit Membaca Realitas

Dua puluh lima tahun berlalu, krisis literasi Indonesia masih menjadi tantangan besar. Elwin Tobing mengulas bagaimana lemahnya budaya membaca dan berpikir kritis memengaruhi kemajuan bangsa, serta pentingnya transformasi literasi untuk masa depan Indonesia.

Antara Legalitas dan Legitimasi: Menguji Narasi Intervensi Kekuasaan melalui Fakta Hukum dan Etika Publik

Narasi mengenai intervensi kekuasaan dalam pemerintahan Joko Widodo selama ini kerap dipandang sebagai ekspresi...

Gelombang Protes dan Kerusuhan Melanda Eropa: Prancis Jadi Episentrum, Meluas ke Italia, Belgia, Portugal, dan Albania

Lisbon–Milan–Paris, 19 Oktober 2026 — Gelombang protes massal yang dipicu oleh kenaikan biaya hidup,...