HomeGlobalPelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

Published on

spot_img

 1,111 total views

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit. Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat hanyalah klimaks dari proses panjang, sebuah pelajaran mahal tentang bagaimana otoritarianisme dibangun perlahan, dinormalisasi, lalu berakhir dalam krisis nasional dan intervensi eksternal.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada 2013, Maduro mewarisi Chavismo yang rapuh, negara yang sangat bergantung pada minyak, institusi lemah, dan populisme ideologis. Ketika harga minyak jatuh pada 2014, alih-alih melakukan koreksi struktural, rezim justru memilih jalan konsolidasi kekuasaan. Mahkamah Agung diisi loyalis, parlemen oposisi dibubarkan pada 2017, dan Majelis Konstituante diciptakan bukan untuk reformasi, melainkan untuk mengunci kekuasaan eksekutif.

Pemilu, 2018 dan terutama 2024, berubah dari mekanisme legitimasi menjadi ritual formal. Klaim kemenangan Maduro berdiri berseberangan dengan temuan pengamat internasional dan hasil suara oposisi. Represi pasca-pemilu, ratusan tahanan politik, serta penyempitan ruang sipil menandai pergeseran Venezuela dari demokrasi cacat menuju otoritarianisme penuh. Ketergantungan pada militer, partai PSUV, dan jaringan patronase korup menjadi tulang punggung rezim.

Dalam konteks inilah konflik dengan Amerika Serikat harus dibaca. AS membingkai Maduro sebagai “narco-state” dan ancaman regional, sementara Maduro memobilisasi narasi anti-imperialisme untuk menopang legitimasi domestik yang runtuh. Ketika negara kehilangan mekanisme koreksi internal, pemilu adil, oposisi bebas, dan hukum independen, tekanan eksternal hampir tak terhindarkan. Intervensi 2026 adalah konsekuensi, bukan sebab.

Pelajaran dari Venezuela sederhana namun keras. Otoritarianisme jarang datang dengan kudeta terbuka. Ia tumbuh melalui pembenaran ideologis, normalisasi pelanggaran hukum, dan kompromi publik yang berulang. Pada akhirnya, harga yang dibayar bukan hanya demokrasi, tetapi kedaulatan, stabilitas, dan martabat bangsa itu sendiri.


Tim Riset Imadeo

Artikel Terbaru

Korban Meninggal Gempa NTT Capai 75 Jiwa, Pengungsi Hampir 100.000 Orang

INNNEWS – Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara...

Malaysia Perkuat Kerja Sama Lintas Batas dengan Indonesia Atasi Kabut Asap Karhutla

INNNEWS – Pemerintah Malaysia menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama lintas batas dengan Indonesia dalam...

Kabut Asap Hebat Selimuti Banjarbaru, Jam Masuk Sekolah Dimundurkan Jadi Pukul 09.00 WITA

INNNEWS – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota...

IAEA Temukan Berton-ton Material Nuklir di Suriah, Diduga Peninggalan Era Assad

  INNNEWS– Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan bahwa para pemeriksanya telah menemukan beberapa ton...

artikel yang mirip

Korban Meninggal Gempa NTT Capai 75 Jiwa, Pengungsi Hampir 100.000 Orang

INNNEWS – Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara...

Malaysia Perkuat Kerja Sama Lintas Batas dengan Indonesia Atasi Kabut Asap Karhutla

INNNEWS – Pemerintah Malaysia menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama lintas batas dengan Indonesia dalam...

Kabut Asap Hebat Selimuti Banjarbaru, Jam Masuk Sekolah Dimundurkan Jadi Pukul 09.00 WITA

INNNEWS – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota...