487 total views
INN Indonesia – Kesehatan – Kesehatan mental telah menjadi isu masyarakat yang didengungkan akhir-akhir ini. Hal ini dikarenakan aktivitas seluruh lapisan masyarakat yang dibatasi akibat pandemi Covid-19 yang menyerang tidak hanya wilayah tertentu saja, akan tetapi seluruh dunia mengalaminya.
Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, lebih dari 19 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, serta lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.
Salah satu gangguan mental yang terdapat di dalam DSM V ialah Bipolar Disorder. Gangguan mental bipolar adalah gangguan perubahan suasana hati yang berubah-ubah secara signifikan atau dengan dua kutub yang saling bertolak belakang.
Dua kutub tersebut adalah depresi dan manik. Depresi merupakan suasana hati yang ditandai dengan kesedihan yang sangat mendalam dan dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Sedangkan manik merupakan keadaan suasana hati gembira yang berlebihan, sehingga mudah tersinggung, hiperaktivitas, banyak bicara, pikiran dan perhatian yang mudah teralihkan.
Orang yang menderita gangguan bipolar akan mengalami perubahan emosional tanpa perlu suatu alasan yang jelas. Pemicu kesedihan yang menurut orang normal itu dianggap sebagai hal yang sederhana, akan tetapi bagi orang dengan gangguan bipolar akan menjadi pemicu fase depresi yang berkepanjangan hingga sulit untuk keluar dari perasaan tersebut.
Menurut DSM V, diagnose gangguan bipolar diklasifikasikan menjadi gangguan bipolar I, gangguan bipolar Il, gangguan cyclothymic, bipolar akibat obat-obatan, gangguan bipolar terkait kondisi medis lain, gangguan bipolar spesifik dan gangguan bipolar tidak spesifik.
Bipolar tipe 1 adalah gangguan bipolar yang memiliki setidaknya satu periode manik yang berlangsung selama 7 hari atau lebih. Pada tipe ini, mereka akan mengalami perasaan bersemangat, impulsive, dan penuh energi.
Episode manik yang terjadi pada penderita memerlukan tindakan perawatan di rumah sakit karena akan menjadi sangat parah serta membahayakan penderita. Penderita mungkin akan mengalami episode depresi hebat atau hipomanik sebelum dan sesudah episode mania.
Jenis bipolar tipe 1 dapat mempengaruhi pria dan wanita secara setara.
Jenis selanjutnya ialah bipolar tipe II yang mana penderita mengalami setidaknya satu episode depresi yang berlangsung selama sekitar dua minggu. Penderita pada gangguan ini mengalami fase hipomania sekitar 4 hari.
Gangguan tipe ini lebih umum terjadi pada perempuan. Orang yang memiliki gangguan bipolar pada tipe II umumnya juga memiliki massalah kesehatan yang lain, misalnya gangguan kecemasan sehingga memperburuk kondisi penderita.
Tipe siklotomik (cyclothymic) merupakan gangguan bipolar yang lebih ringan daripada tipe I dan II. Pada tipe ini, episode hipomania dan depresi terjadi sekitar 2 tahun. Umumnya terjadi pada usia remaja.
Dari beberapa sumber, terdapat data yang mengungkapkan bahwa ada sekitar 46 juta orang mengalami gangguan bipolar di seluruh dunia. Salah satu survei menunjukkan gangguan bipolar pada wanita dan pria masing-masing 2,8% dan 2,9%.
Hal ini memungkinkan bahwa gangguan bipolar menjadi salah satu penyebab disabilitas ke-6 di dunia. Penelitian mengungkapkan tingkat prevalensi seumur hidup sebesar 1,0% untuk bipolar tipe I, 1,1% untuk bipolar tipe II, dan 244 untuk bipolar ambang (bipolar yang memiliki riwayat dari 2 episode hipomanik sub ambang seumur hidupnya)
Kondisi pada gangguan bipolar dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak.
Beberapa ahli mengatakan, gangguan ini juga berasal dari faktor keturunan. Faktor risiko yang diduga bisa menyebabkan dan memperparah kondisi gangguan bipolar adalah mengalami stress berat, mengalami kejadian traumatis, kecanduan alkohol atau obat terlarang, dan memiliki riwayat keluarga yang mengidap gangguan bipolar.
Diagnosis pada gangguan bipolar sangat diperlukan untuk mengenali dan melakukan penanganan lebih lanjut. Hal ini dilakukan oleh psikiater. Psikiater akan melakukan beberapa pengamatan terkait pola berbicara, berpikir, dan bersikap.
Mulanya psikiater mewawancarai terkait seluk beluk yang dialami pasien, kemudian diberi kuisioner, lalu dilakukan pemeriksaan dan pada akhirnya dilakukan diagnosis bersadarkan DSM V.
Gangguan bipolar memiliki komplikasi jika tidak segera ditangani lebih lanjut. Penderita juga berisiko untuk mengalami penyalahgunaan zat, gangguan kecemasan, detak jantung tak beraturan, diabetes, berat badan tidak sehat, dan parahnya penderita memiliki pemikiran untuk bunuh diri.
Penanganan yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala gangguan bipolar adalah dapat melakukan pengobatan (menggunakan antidepresan, antipsikotik, dll), psikoterapi, Electroconvulsive Therapy (ECT), Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).
Yovita Murti Pratiwi


