561 total views
BALI – Saat menghadiri acara peresmian Renovasi dan Revitalisasi Grand Inna Bali Beach di Bali, Senin, 16 Januari 2023, Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri berkali-kali menyinggung soal profesionalisme media massa di Indonesia.
Presiden ke-5 RI itu menegaskan, profesionalnya sebuah media massa perlu diperhatikan. Hal itu dikatakan Megawati dengan mendasarkan pada pemberitaan saat HUT ke-50 PDIP.
Dia mengatakan, ada yang mempermasalahkan perayaan itu seakan-akan bahwa PDIP sedang menunjukkan kekuasaan di depan Presiden Joko Widodo.
“Kalau kemarin saya seperti dicap oleh media, yang ngomong wah Ibu Megawati mengeluarkan sepertinya menunjukkan kekuatannya. Saya memang kuat lho,” kata Megawati.
Megawati mengaku kesal karena demi klik berita, media kerap membuat berita sensasional dan mengundang bully
“Saya suka kesal, kesempatan ngomong sama wartawan. Di Bali, hati-hati ya, nggak ada yang nggak ngebelain gua. Ibu Mega bukan provokator, Ibu Mega nggak ngancem. Ini terbuka, fair. Jangan enak-enak untuk melariskan (berita), kita dibully enggak jelas,” kata Megawati.
Untuk itu, Megawati meminta wartawan agar melek politik. Dia juga mengingatkan kepada wartawan bahwa yang disampaikannya pada saat HUT hanya menegaskan bahwa PDIP adalah partai besar.
“Masa saya dibilang mau menujukkan kekuatan
Tolong adik-adik wartawan ngerti politik juga ya. Partai politik saya ini kan memang terbesar di Indonesia, gimana sih? Jangan dibolak-balik dong, karena kami semua kerja keras,” jelasnya.
Megawati lantas mencontohkan kerja keras yang dimaksud, seperti bagaimana memerahkan Bali pada Pemilu 2024 nanti. Sehingga, itu bukan klaim semata, tapi hanya menunjukkan kerja keras PDIP.
“Nanti tahun 2024 seluruh Bali kita ambil, sanggup enggak? Sanggup. Kadang-kadang deh yang namanya wartawan-wartawati. Jangan ngompor-ngomporin orang, kerja sama aja yang baik. Saya enggak pernah ngomporin. Diam-diam saja, kerja saja,” jelasnya.
Lanjut Megawati, dirinya bukan hendak meminta pujian dari media massa. Yang diharapnya adalah kerja pers seharusnya dilaksanakan sesuai etika, dan berbasis perspektif yang luas.
Sebab menurutnya, sebelum menilai seorang Megawati, seharusnya wartawan terlebih dulu melakukan riset dan pendalaman atas dirinya. Bagaimana misalnya Megawati pernah membawa Indonesia keluar dari ancaman krisis ekonomi dunia.
“Kemarin pidato saya katanya sombong. Padahal CNBC, pengamat ekonomi politik menanyakan mau memberikan award, saya nanya kenapa saya dikasih award? Saya tidak mau dikasih-kasih gitu aja,” kata Megawati.
“Mereka bilang, ‘kami ini aneh, kami ini pengamat politik ekonomi di luar negeri, kenapa ibu Mega jarang dibicarakan bahwa dia orang yang menyelesaikan masalah krisis’. Siapa yang ngomong gitu? Pak Chairul Tanjung. Supaya kalau tahu, tanya Pak Chairul Tanjung. Itu namanya kode etik jurnalistik, para wartawan yang saya sayangi. Jangan selalu pernyataan saya dipotong, dibully,” urai Megawati.
Pada acara tersebut, Megawati hadir bersama Ketua DPR RI, Puan Maharani dan Menteri BUMN Erick Thohir.


