169 total views
INNNEWS – Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan kasus infeksi yang diduga menyebabkan kematian sejumlah penumpang kapal pesiar internasional MV Hondius. Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut risiko penyebaran global masih tergolong rendah, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap virus yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan hewan pengerat lainnya.
Penularan umumnya terjadi saat seseorang melakukan kontak dengan urine, kotoran, air liur, atau debu yang telah terkontaminasi virus dari tikus yang terinfeksi.
Di dunia medis, infeksi hantavirus terbagi menjadi dua bentuk utama. Pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di wilayah Asia serta Eropa, termasuk Indonesia. Kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika.
Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa sehingga cukup sulit dikenali. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, mual, hingga muntah.
Dalam kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, hingga gangguan paru-paru serius yang berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani.
Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan bahwa Indonesia bukan wilayah baru bagi hantavirus.
Beberapa jenis virus ini telah ditemukan sejak lama di Tanah Air, terutama strain Seoul virus (SEOV) yang ditularkan melalui tikus rumah dan tikus got. Namun, pemerintah menegaskan strain yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai memperketat pengawasan di pintu masuk negara melalui skrining kesehatan bagi pelaku perjalanan internasional.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan thermal scanner serta pemantauan kondisi kebersihan kapal dan pesawat, termasuk keberadaan tikus atau kotorannya.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa pencegahan paling efektif terhadap hantavirus adalah menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi paparan terhadap tikus.
Masyarakat dianjurkan menutup akses masuk tikus ke rumah, membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi dengan cairan disinfektan, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau tempat yang menjadi sarang tikus.
Hingga kini belum tersedia vaksin hantavirus yang digunakan secara luas. Karena itu, deteksi dini dan pola hidup bersih menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut


