30 total views
INNNEWS — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri dan pemimpin Partai Buruh pada Senin (22 Juni 2026). Pengumuman ini disampaikan dalam pidato emosional di luar Downing Street No. 10, kurang dari dua tahun setelah Partai Buruh meraih kemenangan telak pada pemilu Juli 2024.
Starmer menyatakan akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemimpin baru Partai Buruh terpilih, yang diperkirakan selesai sebelum parlemen kembali bersidang pada September. Ia mengakui tekanan internal partai dan pesan dari pemilih setelah kekalahan telak di pemilu lokal baru-baru ini.
“Setiap keputusan yang saya buat dipandu oleh kepentingan negara yang saya cintai. Saya telah mendengar pesan dari partai saya,” ujar Starmer, sambil menyampaikan terima kasih kepada istrinya, Victoria, yang tampak emosional di sisinya. Ia berencana menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Pengunduran diri ini dipicu oleh ketidakpuasan internal, tantangan ekonomi, isu imigrasi, tagihan energi tinggi, serta skandal terkait penunjukan. Titik balik utama adalah kemenangan telak Andy Burnham di pemilu sela Makerfield pekan lalu, yang memicu seruan perubahan kepemimpinan.
Andy Burnham, Frontrunner Pengganti
Mantan Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham (56) langsung mengonfirmasi akan mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh. Ia muncul sebagai kandidat terdepan, didukung oleh tokoh kunci seperti Wes Streeting yang mundur dari persaingan.
Jika terpilih, Burnham akan menjadi Perdana Menteri tanpa pemilu umum baru, karena Partai Buruh masih menguasai mayoritas parlemen. Proses nominasi diperkirakan dibuka segera, dengan hasil akhir sebelum reses musim panas.
Burnham, yang dijuluki “Raja Utara”, dikenal karismatik, pro-kesejahteraan, dan kuat di basis utara Inggris. Kemenangannya di Makerfield dengan 54,8% suara menunjukkan kemampuannya mengalahkan Reform UK
Dampak Politik
Pengunduran ini menandai perdana menteri ketujuh Inggris dalam sekitar satu dekade, mencerminkan ketidakstabilan politik pasca-Brexit. Reform UK dan oposisi menyerukan pemilu umum segera.


