87 total views
INNNEWS– Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan dunia internasional. Berdasarkan laporan terbaru dari Emmett Institute UCLA School of Law yang dirilis pada April 2026, Bantargebang tercatat sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dari sektor pengelolaan limbah.
Dalam laporan tersebut, TPST Bantargebang menghasilkan emisi metana mencapai 6,3 ton per jam. Angka ini hanya berada di bawah lokasi pembuangan sampah Campo de Mayo di Argentina yang menghasilkan sekitar 7,6 ton per jam. Penelitian dilakukan menggunakan teknologi pemantauan satelit canggih milik NASA dan Planet Labs yang mampu mendeteksi kebocoran gas metana dari luar angkasa.
Gas metana sendiri merupakan salah satu gas rumah kaca paling berbahaya karena memiliki dampak pemanasan global jauh lebih besar dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Emisi tersebut umumnya berasal dari pembusukan sampah organik seperti sisa makanan, limbah rumah tangga, dan material mudah terurai lainnya yang menumpuk dalam jumlah besar di lokasi pembuangan akhir.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar. Warga yang tinggal di sekitar kawasan Bantargebang disebut berisiko mengalami gangguan pernapasan akibat polusi udara yang dihasilkan dari tumpukan sampah dan gas metana. Selain itu, emisi tersebut juga memperparah krisis iklim global yang kini menjadi perhatian dunia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini mulai menyiapkan berbagai langkah penanganan, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik dan bahan bakar alternatif. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah sekaligus menekan emisi gas metana dari TPST Bantargebang di masa mendatang.


