400 total views
INN INTERNASIONAL – Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali mengguncang perekonomian global, memicu ketidakpastian pasar dan mendorong harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Perang dagang yang dipicu oleh pengenaan tarif tinggi terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia, telah menciptakan efek domino yang terasa di seluruh dunia, dengan emas menjadi salah satu aset safe haven yang paling dicari investor di tengah gejolak ini.
Kebijakan Tarif Trump dan Dampaknya
Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan penerapan tarif impor sebesar 32% terhadap lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia, dengan tarif khusus yang lebih tinggi, mencapai 145% untuk China.
Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi “kemerdekaan ekonomi” AS, dengan tujuan mengurangi defisit perdagangan dan meningkatkan pendapatan domestik melalui tarif.
Trump menyatakan bahwa pendapatan dari tarif ini akan digunakan untuk mengurangi pajak dan utang nasional AS.
Namun, langkah ini memicu reaksi keras dari negara-negara mitra dagang, seperti China, yang menuduh AS melakukan “bullying ekonomi” dan proteksionisme.
Kebijakan tarif ini tidak hanya memengaruhi perdagangan bilateral, tetapi juga mengganggu rantai pasok global.
Sebagai contoh, Indonesia, yang bergantung pada ekspor tekstil, alas kaki, dan furnitur ke AS, menghadapi penurunan daya saing karena harga barang menjadi lebih mahal di pasar AS.
Industri tekstil Indonesia, yang mempekerjakan hingga 3,98 juta orang pada 2025, diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.
Harga Emas Melonjak ke Rekor Baru
Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perang dagang ini mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia pada 3 April 2025 ditutup pada level US$3.133 per troy ons, melampaui rekor sebelumnya di US$3.123,05. Pada 11 April 2025, harga emas bahkan mencapai US$3.245,28 per troy ons, level tertinggi sepanjang masa.
Lonjakan harga emas ini tidak hanya didorong oleh perang dagang, tetapi juga oleh pelemahan dolar AS dan ketegangan geopolitik global, seperti ancaman konflik di Timur Tengah.


