HomeHeadlinePengangguran di Indonesia Tertinggi se-ASEAN, Apa Kabar 19 Juta Lapangan Kerja yang...

Pengangguran di Indonesia Tertinggi se-ASEAN, Apa Kabar 19 Juta Lapangan Kerja yang Dijanjikan Gibran?

Published on

spot_img

 2,115 total views

INN NEWS – Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, kini menghadapi tantangan serius di pasar tenaga kerja. Berdasarkan laporan World Economic Outlook dari Dana Moneter Internasional (IMF) edisi April 2025, Indonesia mencatatkan tingkat pengangguran tertinggi di ASEAN, mencapai 5,0% pada tahun 2025.

Angka ini melampaui negara-negara tetangga seperti Filipina (4,5%), Malaysia (3,2%), Vietnam (2,0%), Singapura (2,0%), dan Thailand (1,0%). Dengan jumlah angkatan kerja mencapai 153,05 juta orang per Februari 2025, sebanyak 7,28 juta orang di antaranya tidak memiliki pekerjaan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Angka ini meningkat 80.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan tekanan struktural yang signifikan di pasar tenaga kerja Indonesia.

Krisis Pengangguran di Tengah Janji Besar

Tingginya angka pengangguran ini menjadi sorotan tajam, terutama setelah janji kampanye Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menargetkan penciptaan 19 juta lapangan kerja baru, termasuk 5 juta di antaranya merupakan green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan, selama kampanye Pilpres 2024.

Janji ini disampaikan dengan optimisme untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia yang diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2030-2045. Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, seperti yang terjadi di PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dan sektor tekstil lainnya, memicu keresahan publik. Netizen di media sosial ramai menagih janji Gibran, dengan beberapa menyindir bahwa janji tersebut jauh dari kenyataan.

Struktur Ekonomi dan Tantangan Lapangan Kerja

Meskipun ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87% pada kuartal pertama 2025, pertumbuhan ini tidak cukup untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah cepat.

Sektor perdagangan, pertanian, dan manufaktur masing-masing menyerap 980.000, 890.000, dan 720.000 pekerja baru, tetapi dominasi sektor informal—yang mencakup 59,4% tenaga kerja per Februari 2025—menunjukkan rendahnya kualitas pekerjaan.

Pekerja informal, seperti pedagang kaki lima dan petani, sering kali tidak memiliki jaminan pendapatan stabil atau perlindungan sosial, yang memperparah masalah ketenagakerjaan.

Faktor struktural seperti ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja, disparitas perkotaan-pedesaan, serta ketergantungan pada sektor yang tidak intensif tenaga kerja, seperti startup digital dan infrastruktur, menjadi penghambat utama.

Selain itu, kebijakan penghematan anggaran pemerintah sebesar 306,6 triliun rupiah pada awal 2025, termasuk pemotongan belanja kementerian dan transfer ke daerah, turut memengaruhi daya beli masyarakat dan memicu PHK di sektor-sektor seperti perhotelan.

Tantangan Pemenuhan Janji 19 Juta Lapangan KerjaJanji Gibran untuk menciptakan 19 juta lapangan kerja menghadapi ujian berat.

Data IMF memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia akan meningkat menjadi 5,1% pada 2026 dan 2027, menunjukkan bahwa tanpa perubahan kebijakan signifikan, target tersebut sulit tercapai.

Sejumlah langkah yang diusulkan pemerintah, seperti pengembangan infrastruktur, pelatihan vokasi, dan menarik investasi ke sektor intensif tenaga kerja, belum menunjukkan hasil yang memadai.

Ekonom seperti Teguh Dartanto dari Universitas Indonesia menyoroti bahwa fokus pada sektor seperti manufaktur intensif tenaga kerja, seperti yang dilakukan Vietnam, bisa menjadi solusi.

Namun, netizen di media sosial menunjukkan ketidakpuasan terhadap lambatnya realisasi janji tersebut. Salah satu pengguna X menyindir, “Mana 19 juta lapangan kerja? Rakyat pada nganggur, malu-maluin Indonesia,” sementara yang lain menyebut janji tersebut sebagai “hanya untuk posisi wapres doang.”

Kekecewaan ini diperparah oleh fakta bahwa pengangguran tertinggi terjadi pada kelompok usia muda (15-24 tahun) dengan tingkat pengangguran mencapai 16,16%, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Langkah ke Depan: Harapan dan Realitas

Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah perlu mereorganisasi kebijakan industrialisasi agar lebih berorientasi pada penciptaan lapangan kerja, seperti yang disarankan oleh Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas.

Fokus pada sektor tekstil, alas kaki, dan usaha kecil menengah (UKM) yang intensif tenaga kerja dapat membantu menyerap lebih banyak pekerja, terutama di daerah pedesaan.

Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri menjadi krusial untuk mengurangi ketimpangan keterampilan.

 

 

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.